Pemrov Jabar bakal Subsudi Biaya Angkut Hasil Pertanian Pakai Kereta Api, Ini Penjelasan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Kholikul Ihsan• Senin, 13 Oktober 2025 | 15:08 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan.
RADAR BOGOR - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemproc Jabar) mengambil langkah yang berpotensi mengubah wajah logistik dan rantai pasok pangan di wilayah tersebut.
Demi menstabilkan harga komoditas dan memangkas biaya transportasi petani, Pemprov Jabar resmi mengumumkan subsidi biaya angkut hasil pertanian menggunakan layanan kereta api khusus.
Kesepakatan bersejarah ini dicapai antara Pemdaprov Jabar, Kementerian Perhubungan, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam pertemuan yang digelar di Gedung Negara Pakuan, Jumat, 10 Oktober 2025 lalu.
“Kami sudah sepakat untuk menyediakan gerbong khusus mengangkut hasil pertanian, nanti biayanya akan disubsidi oleh Pemprov,” ujar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dilansir dari laman resmi Pemprov Jabar.
Selama ini, salah satu kendala terbesar yang dihadapi petani Jabar yakni tingginya biaya logistik dan buruknya akses jalan menuju pasar utama. Alih-alih mengandalkan truk di jalan raya yang macet dan rawan, penggunaan kereta api menawarkan kecepatan, volume besar, dan ketepatan waktu yang jauh lebih efisien.
Dengan skema subsidi biaya angkut ini petani tidak perlu lagi menanggung seluruh beban operasional kereta, yang secara otomatis akan menurunkan Harga Pokok Penjualan (HPP) produk di tingkat produsen.
Dampak lanjutannya yakni konsumen berpotensi menikmati harga sayur, buah, atau komoditas lain yang lebih stabil dan terjangkau di pasar-pasar besar seperti Jakarta dan Bandung.
Dalam pertemuan tersebut, Dedi Mulyadi juga menyinggung rencana vitalisasi infrastruktur perkeretaapian. Pembahasan reaktivasi jalur KA Padalarang-Cicalengka dan jalur strategis Bandung-Cianjur-Sukabumi-Bogor sampai ke Jakarta mengindikasikan bahwa subsidi logistik ini bukan sekadar kebijakan sementara, tetapi bagian dari desain ulang sistem transportasi Jabar.
Jika jalur-jalur tua ini hidup kembali, daerah-daerah penghasil pertanian terpencil yang selama ini kesulitan akses, seperti Cianjur dan Sukabumi, akan terhubung langsung dengan pasar metropolis.
Tak hanya logistik pertanian, KDM juga mengungkapkan strategi cerdas untuk mengoptimalkan aset berharga Pemprov, Bandara Internasional Kertajati (KJT).
“Ada juga pembahasan tentang optimalisasi Bandara Kertajati yang akan digunakan khusus angkutan jamaah haji dan umroh, supaya bandara itu tidak nganggur terus, itu kan aset Pemprov Jabar yang bernilai tinggi,” terang gubernur Jawa Barat.
Langkah ini dilihat sebagai solusi untuk menghidupkan bandara yang selama ini sepi sambil menunggu perkembangan infrastruktur pendukung lainnya.***