Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Akui Kadang Timbulkan Pro Kontra, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Sebut Orang yang Dianggap Bodoh Justru Paling Produktif

Lucky Lukman Nul Hakim • Selasa, 21 Oktober 2025 | 21:02 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat ada di UPI.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat ada di UPI.

RADAR BOGOR - Pandangan menarik disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan dalam acara Dies Natalis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi menyoroti fenomena sosial tentang perbedaan cara masyarakat memaknai kecerdasan dan produktivitas di era sekarang.

“Saya ke mana-mana sering bilang, kalau saya diundang bicara, saya nggak pernah tahu judulnya apa. Pokoknya ngomong saja, kalau salah ya biar viral,” ujarnya disambut tawa pra tamu undangan.

KDM (sapaan kang Dedi Mulyad) menambahkan, gaya bicaranya sering menimbulkan dua kubu, ada yang menyukai, ada pula yang tidak.

Namun, keduanya sama-sama diberi “pekerjaan” oleh situasi sosial saat ini.

Menurutnya, masalah utama masyarakat modern adalah ketimpangan antara ‘orang pintar’ dan ‘orang yang dianggap bodoh’.

Ia menilai, banyak orang berpendidikan tinggi justru kekurangan lapangan kerja, sedangkan mereka yang dianggap “tidak berpendidikan” justru terus bekerja dan produktif setiap hari.

“Orang-orang yang disebut bodoh itu justru bekerja setiap hari nyapu, macul, mulung sampah, manjat kelapa, bersihin sawah, pergi ke sungai, ke laut. Mereka produktif, mereka yang memastikan kita bisa duduk makan nasi di meja makan,” ungkapnya.

Dedi Mulyadi juga menyoroti bahwa para pekerja sederhana sering kali tidak pernah mendapat pengakuan akademik, padahal kontribusinya besar terhadap kehidupan sehari-hari.

Gubernur Jawa Barat menyontohkan “Mak Icih”, sosok sederhana yang memasak dengan metode tradisional tanpa gelar akademik, namun menghasilkan sajian yang disukai banyak orang.

Dedi Mulyadi kemudian mengaitkan hal itu dengan nilai spiritual.

“Ada uyah, ada tarasi, ada tomat, ada bawang. Semuanya disatukan jadi satu rasa lada,” kata Gubernur Jawa Barat dengan gaya khas Sunda yang akrab.

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menekankan bahwa sektor kuliner dan usaha kecil rakyat justru menyumbang besar pada pendapatan daerah, termasuk 10 persen pajak hotel dan restoran di Kota Bandung.

“Semua itu lahir dari rasa, cinta, dan keikhlasan, bukan dari pikiran akademik,” tegasnya.

Pidato inspiratif Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi itu pun mengundang tepuk tangan panjang dari civitas akademika UPI. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#dedi mulyadi #Universitas Pendidikan Indonesia #gubernur jawa barat #upi