RADAR BOGOR - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok dan Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menyelenggarakan Workshop Penulisan Modul Pengajaran Budaya Sensor Mandiri.
Perkembangan teknologi dan media digital sudah memberikan dampak besar terhadap perilaku menonton anak dan remaja, oleh karena itu pendidikan literasi media dan budaya sensor mandiri penting dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Disdik Kota Depok, Siti Chaerijah Aurijah, menurutnya, sensor bukan hanya tugas lembaga formal, tetapi menjadi kesadaran pribadi dan sosial.
"Melalui budaya sensor mandiri, kita mendidik anak-anak agar mampu menyeleksi tontonan yang sehat dan bermakna,” ujar Siti Chaerijah Aurijah kepada Radar Bogor Kamis 13 November 2025.
Workshop Penulisan Modul Pengajaran Budaya Sensor Mandiri menurut Siti menjadi wadah bagi para pendidik untuk menyusun modul pembelajaran berbasis literasi media dan karakter, yang dapat diintegrasikan dalam kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah.
“Kami berkomitmen mendorong pendidikan karakter berbasis literasi digital dan budaya sensor mandiri untuk membentuk pelajar yang berakal dan cerdas,” tuturnya.
Ia memaparkan, kegiatan ini merupakan bagian dari program Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) yang bertujuan menanamkan kesadaran menonton sehat kepada masyarakat.
"Terutama di kalangan tenaga kependidikan," tambahnya.
Tenaga kependidikan kata Siti menjadi salah satu unsur strategis dalam mendorong GNBSM.
"Mereka dapat menjadikan budaya sensor mandiri sebagai bahan pengajaran di sekolah, baik melalui mata pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler," kata Siti.
"Untuk mendukung hal tersebut, tenaga kependidikan perlu disapa, didampingi, serta diperkuat dengan modul dan bahan pengajaran yang tepat," tambahnya. (Faj)
Editor : Eka Rahmawati