RADAR BOGOR - Pembangunan gapura atau gerbang Gedung Sate yang menjadi kantor gubernur Jawa Barat tengah menyedot perhatian. Gapura dengan tampilan yang disebut mirip Candi Bentar itu kabarnya menelan anggaran Rp3,9 miliar.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi buka suara terkait pembangunan gapura Gedung Sate yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kota Bandung itu bersama arstitek pembangunan gapura didampingi penyelenggara teknis.
Dedi Mulyadi mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan perubahan-perubahan terhadap areal Gedung Sate, bukan bagian gedung intinya melainkan pada halamannya. Sebab bangunan utama Gedung Sate memiliki nilai sejarah sehingga untuk melakukan pengecatan pun harus izin terlebih dulu kepada Balai Pelestarian Kebudayaan.
Arsitek dari ITB Sigit menjelaskan makna di balik desain gapura yang disebut mirip dengan Candi Bentar.
Sigit menyampaikan Gedung Sate merupakan gedung milik masyarakat Jawa Barat yang dirancang dengan model percampuran antara arsitektur Eropa dengan arsitektur lokal.
"Kita lihat di pintu masuk dengan model-model candi bahkan di tengah-tengahnya itu ada relief seperti candi, jadi kemudian itu menjadi salah satu referensi bagaimana kita membentuk suasana Gedung Sate ini memiliki jiwa Jawa Barat, Sunda," ujar Sigit saat menjelaskan kepada gubernur Jawa Barat sebagaimana dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Sebelum membangun gapura, Sigit menyebut pihaknya melakukan riset untuk menentukan desain yang cocok dengan bangunan Gedung Sate.
"Dalam rangka membentuk ini kami juga melakukan riset-riset komponen pagar, komponen gapura, mana sih yang masih eksis di Jawa Barat yang memiliki warisan budaya," jelas Sigit.
Dari hasil riset maka dipilihlah komponen gapura yang masih eksis yakni Gapura Kacirebonan dari Cirebon, Jawa Barat.
"Nah itu yang kami coba angkat jadi itu dan bagaimana penerapannya di Gedung Sate ternyata kalau kita lihat di gedung sate ada komponen-komponen yang bisa menjadi referesi bagi gapura dari Cirebon," imbuhnya.
Dedi Mulyadi menambahkan banyak yang menyebut gapura tersebut seperti Candi Bentar, Sigit lalu menjelaskan Candi Bentar memiliki arti terbelah.
Pada bagian gapura Sigit mengatakan konsep bangunan terdiri dari badan, kepala, dan kaki dan terdapat segi empat di bagian badan gapura.
"Ada sentuhan teknologi semacam gawang, ini ada konsep badan kepala dan kaki, jadi bagaimana si badan ini dijaga kanan kirinya," kata Sigit seraya menambahkan bahan baku pembuatan gapura berasal dari Madura.
Bahan baku bata yang berasal dari tanah dari Madura itu menurut Sigit berbeda dengan yang lain sebab bisa saling mengunci, tidak bergeser meski tidak disemen melainkan dilem hampir sama dengan candi.
Meski demikian Dedi Mulyadi menyampaikan ucapan terima kasih atas berbagai kritik terhadap pembangunan gapura Gedung Sate.
"Saya ucapkan terima kasih atas berbagai kritik terhadap pembangunan gapura-gapura ini," ujar Dedi Mulyadi yang kemudian meminta penyelenggara teknis menjelaskan terkait anggaran dengan total Rp3,9 miliar.
"Berapa biayanya seluruhnya?" tanya Dedi Mulyadi.
"Sebenarnya Rp3,9 miliar itu bukan hanya gapura, itu dimulai dari pembongkaran, kemudian konstruksi, perencanaan, gambar, pengawasan, dan ini memang gapuranya ada di empat titik yang kecil, dua yang besar kemudian di depan pintu gerbang nanti kemudian ada yang lebih wah," ujar wanita yang memakai jilbab putih tersebut.
Gubernur Jawa Barat kemudian menegaskan bahwa karya-karya dengan arsitektur bernilai seni tinggi menelan anggaran yang lebih mahal.
"Pasti harganya beda, kalau pengen murah ya pakai hebel, kalau pager Gedung Sate pakai hebel pasti murah," ucap Dedi Mulyadi.
Editor : Eka Rahmawati