RADAR BOGOR - Pengelolaan sampah di Masjid Baitul Makmur, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat kini menjadi rujukan banyak tempat ibadah lain.
Model pengelolaan tersebut telah melahirkan jaringan binaan hingga 90 masjid dan musala serta mendorong terbentuknya Taman Ecoedupark, ruang belajar ramah lingkungan bagi anak, remaja, hingga orang tua.
Di halaman Masjid Baitul Makmur, persepsi bahwa sampah adalah persoalan mulai berubah.
Sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan justru dimanfaatkan sebagai bentuk sedekah oleh para jamaah dan pengelola masjid.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Makmur, Muhammad Suhapli, menjelaskan kepada Radar Bekasi bahwa sedekah tidak selalu dalam bentuk uang atau harta.
Ia menyampaikan, sampah rumah tangga pun dapat menjadi sumber sedekah yang bermanfaat.
Tidak jauh dari pelataran masjid yang berada di Perumahan Telaga Sakinah, Desa Telagamurni, terpajang kotak amal berbentuk unik dan bersih.
Kotak tersebut didesain untuk menampung botol plastik, kardus, kertas, hingga barang bekas yang memiliki nilai ekonomi.
Setiap hari, jamaah datang membawa sampah terpilah seperti plastik dapur, kardus belanja, hingga sesekali barang elektronik lama.
Suhapli mengungkapkan bahwa ide sedekah sampah muncul dari keprihatinan terhadap Tempat Pengelolaan Akhir (TPA) yang semakin penuh.
Ia menilai bahwa perubahan pola pikir terhadap sampah perlu dimulai dari masjid, terlebih ia dan para pengurus sudah lama aktif dalam gerakan lingkungan dan bank sampah.
Pada tahap awal, pengurus hanya menempatkan beberapa kotak sedekah sampah dan mengumumkan program tersebut kepada jamaah.
Tanpa diduga, partisipasi warga meningkat tajam. Sampah bernilai ekonomis dari perkantoran pun mulai dibawa ke masjid.
Gerakan ini kemudian sejalan dengan konsep eco masjid yang diterapkan Baitul Makmur, yaitu pengelolaan sampah, air, dan energi secara bijak.
Komitmen ini pernah membuat masjid memperoleh penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup atas kontribusinya dalam pelestarian lingkungan.
Bagian dari Perilaku Beragama
Gerakan sedekah sampah tersebut juga menjadi implementasi Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.
Suhapli menjelaskan, program GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) diarahkan agar pengelolaan sampah menjadi bagian dari praktik beragama sehari-hari.
Dimulai pada 2019, gerakan itu berkembang pesat.
Selain sampah plastik, masjid juga kini menerima sedekah minyak jelantah dan pakaian layak pakai.
Minyak jelantah dijual ke perusahaan yang mengekspornya ke Jerman untuk diolah menjadi biodiesel dengan harga sekitar Rp 6.500 per liter.
Sementara pakaian layak pakai dijual kepada warga dengan harga terjangkau, antara Rp 1.000 hingga Rp 10.000.
Pada masa awal pelaksanaan, pendapatan dari sedekah sampah mencapai Rp 25–30 juta per bulan dan digunakan untuk membiayai kegiatan pengajian bagi 350 anak.
Banyak warga bahkan membawa televisi, komputer, hingga kendaraan tua ke masjid.
Namun, seiring semakin banyak masjid dan lingkungan yang meniru program tersebut, pendapatan kini berada pada kisaran Rp5-6 juta per bulan.
Suhapli menilai penurunan tersebut sebagai tanda bahwa gerakan ini berhasil meluas dan menjadi tujuan utama program.
Selain pengelolaan sampah, masjid juga menerapkan inovasi penghematan air.
Keran wudhu disetel agar tidak boros, dan meski awalnya mendapat keberatan dari sebagian jamaah, penjelasan mengenai makna ibadah dalam penghematan membuat mereka akhirnya memahami.
Air bekas wudhu ditampung di toren untuk menyiram tanaman dan kompos.
Masjid juga membangun sumur biopori, menanam pepohonan, serta membuat danau kecil untuk menjaga ketersediaan air tanah hingga tidak mengalami kekeringan selama musim kemarau lalu.
Dari komitmen lingkungan tersebut, lahirlah Taman Ecoedupark seluas 2.250 meter persegi.
Di taman ini, anak-anak belajar hidroponik, remaja memanen ikan, dan para orang tua berdiskusi mengenai pengolahan kompos.
Sekolah-sekolah pun datang untuk belajar tanpa dipungut biaya.
Jika ada pengunjung yang ingin berinfak, masjid tetap menerima, tetapi pada dasarnya taman ini menjadi ruang belajar bersama masyarakat. (*/ttg)
Karsim Pratama, Kabupaten Bekasi
Editor : Siti Dewi Yanti