Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Transformational Leadership dalam Ruang Digital, Dedi Mulyadi Sang Gubernur Konten

Alpin. • Selasa, 2 Desember 2025 | 18:56 WIB
Gubernur Dedi Mulyadi, saat menemui warga Jawa Barat.
Gubernur Dedi Mulyadi, saat menemui warga Jawa Barat.

RADAR BOGOR - Pada masa kepemimpinannya, Dedi Mulyadi atau yang kita kenal dengan KDM memiliki gaya komunikasi secara tidak formal, penuh empati, serta selalu berdasar pada nilai tradisi dan kearifan lokal Bumi Pasundan yang dicerminkan melalui berbagai kanal media sosialnya.

Eksposur besar dari pengunggahan konten terkait aktivitas blusukan KDM sebagai gubernur menjadikan banyak orang melabelinya sebagai ‘gubernur konten’.

Padahal, menurut penelitian sosial dari Hidayati (2021), media sosial memang merupakan salah satu wadah bagi pemimpin untuk mengembangkan personal branding dengan menerima dan merespon aspirasi publik secara berkala.

Tanpa disadari, hal tersebut telah menjadi bagian dari pola komunikasi politik KDM yang menganut kepemimpinan transformasional berbasis inspirational motivation dari one to many audience menjadi many to many audience.

Sosok Kang Dedi Mulyadi di Mata Publik

Sejak kecil, KDM telah ditempa oleh ujian kehidupan. Semangat dan motivasi KDM dimulai saat ayahnya menjadi purnawirawan tentara pada usia 28 tahun.

Berjualan es mambo dan gorengan, menggembala domba, serta menjadi kuli angkut merupakan kiat giat KDM agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, ikan asin menjadi makanan spesial pada awal bulan saja karena makan nasi dan garam merupakan rutinitas KDM dengan kakaknya (Susanti, 2025).

Latar belakang yang keras dan pahit mendorong bagaimana cara KDM memosisikan diri di hadapan publik.

Hal ini juga yang menjadikan KDM dekat dengan masyarakat kelas bawah, seakan KDM mengikat emosi publik pada sosoknya.

Melalui pengunggahan berbagai konten yang relevan, KDM secara personal ingin mewujudkan Pilar Pemerintahan yang Baik yang transparan, akuntabel, responsif, dan partisipatif yang merupakan salah satu pilar pada visinya untuk menjadikan Jawa Barat Istimewa Lembur Diurus Kota di Tata: Pelayanan dan Pembangunan (Bappeda Jabar, 2025).

Terpilihnya KDM sebagai Gubernur Jawa Barat 2024 tak lepas dari rekam jejak politiknya yang panjang.

Sepak terjangnya sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode mengantarkan semangatnya untuk berkecimpung dalam dunia politik menjadi anggota DPR RI periode 2019-2024 dari dapil Jabar VII dengan jabatan sebagai Ketua Komisi IV DPR RI.

Kemudian, KDM berkontestasi dalam Pilgub Jabar 2024 sebagai Gubernur bersama Erwan Setiawan dan mencetak prestasinya dengan perolehan suara 62,22% yang merupakan suara tertinggi dalam kontestasi Pemilu Jawa Barat (Bagaskara, 2024).

Keunikan KDM dalam Penyampaian Informasi

KDM memiliki total pengikut di 5 platform media sosial sebesar ± 39 juta dengan cakupan YouTube sebanyak 8,59 juta pengikut, Instagram sebanyak 5,8 juta pengikut, TikTok sebanyak 10,6 juta pengikut, Facebook sebanyak 13,9 juta pengikut, dan X sebanyak 180 ribu pengikut.

Jumlah penduduk Jawa Barat sendiri sebanyak 48.274.162 juta jiwa didominasi oleh Generasi Z sebanyak 12.965.399 juta jiwa atau sekitar 26,86% dan disusul oleh Generasi Milenial sebanyak 12.653.335 juta jiwa atau sekitar 26,21% (BPS, 2020).

Berdasarkan penelitian oleh Evita (2023) menyatakan bahwa Generasi Z memang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan politik kedepannya dengan hasil bahwa Generasi Z mendapatkan informasi politik melalui media sosial sebesar 75,69%, internet atau search engine sebesar 64,71%, dan media online 38,65%, artinya Gen Z mendapatkan informasi politik dengan insidental dan instan.

Hal ini menyebabkan Gen Z hanya memiliki rentang perhatian sekitar 8 menit dan lebih mudah dalam memahami gambar visual (Mosca, et.al., 2012).

Short video menjadi cara yang paling digemari oleh kalangan Generasi Z untuk meningkatkan awareness mereka terhadap literasi.

Hal ini menyebabkan adanya perubahan paradigma pemimpin dalam melakukan komunikasi politik masa kini menjadikan bentuk penyampaian informasi yang semula bersifat konvensional kini perlahan beralih ke ranah digital agar keterjangkauan informasi meluas ke semua kalangan.

Hidayati (2021) menyatakan bahwa komunikasi politik yang semula berbentuk orasi, pidato, ceramah kini dioptimalkan melalui media sosial seperti Facebook, Twitter (X), Instagram, dan Youtube sebagai bentuk kampanye di dalam dunia maya (cyber-campaign).

Sejalan dengan hal itu, KDM berupaya mewujudkan sosok humanis pada kontennya sebagai cerminan dari inspirational motivation dalam teori kepemimpinan transformasional oleh Bernard M. Bass dan Bruce J. Avolio (1994).

Gaya kepemimpinan dari KDM memberikan implikasi positif dengan merangkul dan memotivasi masyarakat melalui pengunggahan konten di berbagai platform sosial media terkait dengan kehidupannya sehari-hari sebagai kepala keluarga dan sebagai pemimpin Jawa Barat.

Ciri khas penyampaian konten melalui story telling ternyata mampu menggugah minat pendengar melalui komunikasi berbasis budaya Sunda untuk menciptakan rasa nyaman dan kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.

Dengan pendekatan emosional, masyarakat Jawa Barat cenderung menganggap Sang ‘Gubernur Konten’ sebagai ‘Pemimpin Biasa’, yang menandakan bahwa cara komunikasi KDM melalui media sosial efektif untuk diterapkan.

Penguatan sense of familiarity yang dibentuk oleh KDM memupuk pandangan bahwa seorang pemimpin juga dapat hadir lebih dekat bersama masyarakat dengan membuka ruang diskusi secara langsung dan terbuka, bukan hanya sekadar menjalankan fungsi administratif saja (Setiaman & Ananda, 2025).

Suara Publik: Membaca Sentimen Masyarakat terhadap Konten KDM

Dalam menyampaikan agenda serta kebijakannya melalui media sosial, terutama dengan menyasar masyarakat kecil, KDM seringkali menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan.

Meskipun beberapa kebijakannya dinilai kontroversial, KDM memperoleh beragam respons positif berkat pendekatannya yang tegas namun humanis.

Salah satu contoh yang paling menonjol adalah kontennya di platform YouTube yang telah ditonton sebanyak 2.143.658 kali dengan judul, “Ayah dari 11 Anak Minta Waktu Untuk Istikhoroh Saat KDM Ngajak Ber-KB”.

Dalam video tersebut, KDM berusaha menunjukkan cara edukasi publik mengenai pentingnya merencanakan kehamilan demi kebaikan anak yang dilakukan melalui dialog yang ramah, persuasif, dan tetap menghargai lawan bicara.

Respons publik terhadap gaya komunikasi sekaligus kebijakan KDM tercermin dalam temuan Drone Emprit dalam Good Stats (2025), dari 61.486 mentions dan 3,93 miliar interaksi terkait dengan KDM, 50% sentimennya adalah positif, 38% sentimennya adalah negatif, dan sisanya memilih untuk netral pada periode 1 Maret hingga 30 April 2025.

Pembahasan kebijakan KDM juga memunculkan tren di media sosial, diantaranya adalah kebijakan terkait dengan vasektomi masyarakat sebagai saya syarat untuk mendapatkan bantuan sosial, kebijakan wajib militer bagi siswa yang melakukan kenakalan remaja, dan kebijakan larangan study tour yang memicu perdebatan dengan Aura Cinta.

Keragaman sentimen ini menimbulkan polarisasi kelompok terhadap konten KDM yang berpotensi menimbulkan perpecahan lebih ekstrem jika masyarakat melakukan diskusi tak berdasar bersama dengan kelompoknya.

Terdapat empat kelompok yang memiliki memiliki dinamika pada persepsi, antara memandang konten KDM sebagai pemimpin ‘pro rakyat’ dengan mereka yang menganggap sebagai stimulus politik belaka diantaranya adalah kelompok publik yang mendukung, kelompok publik yang kritis, kelompok aktivis dan tokoh publik, serta kelompok media.

Gaya kepemimpinan KDM yang hadir lewat komunikasi media sosial mencerminkan arah baru dalam cara pemimpin menjalin hubungan dengan masyarakat.

Konten yang menampilkan empati, kedekatan, dan nilai-nilai lokal membuat publik merasa lebih terhubung dengan sosoknya.

Personal branding KDM sebagai ‘Gubernur Konten’ tumbuh seiring intensitas interaksi digital yang memperlihatkan bagaimana aspirasi publik ditampung dan direspons secara langsung.

Namun, hal ini bukan menunjukkan suatu hal yang buruk karena pola ini selaras dengan kepemimpinan transformasional yang mendorong motivasi dan keterlibatan luas dari berbagai kelompok.

Perpindahan dari pola komunikasi satu arah menuju ruang percakapan yang lebih dinamis membentuk model pemimpin yang berkembang bersama ritme media sosial dan partisipasi publik yang semakin aktif.(**)

Penulis: Indrayanti Amalia Rana, Azizah Nurlinda Astri
Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia

Editor : Alpin.
#dedi mulyadi #KDM #Gubernur Konten