Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Analisis Psikolog Soal Kasus Teror Bom Mahasiswa IT di Kota Depok Akibat Putus Cinta dan Lamaran Ditolak

Ahmad Sopyan • Sabtu, 27 Desember 2025 | 10:14 WIB
Tersangka teror bom jelang natal di Kota Depok saat digelandang petugas Polres Metro Depok, Jumat 26 Desember 2025.
Tersangka teror bom jelang natal di Kota Depok saat digelandang petugas Polres Metro Depok, Jumat 26 Desember 2025.

RADAR BOGOR - Aksi teror berupa ancaman bom terhadap sejumlah sekolah di Kota Depok jelang Natal beberapa waktu lalu bikin heboh.

Tim Jibom Gegana Mako Brimob Klapa dua langsung turun tangan. Menyisir sejumlah sekolah yang mendapatkan teror ancaman bom itu.

Pelakunya yakni seorang mahasiswa jurusan IT berinisial H. Ia membuat ancaman teror bom tersebut dengan mencatut nama mantan pacarnya bernama Kamila.

Aksi nekat itu dipicu kekecewaan akibat Kamila memilih mengakhiri hubungan pacaran dengan pelaku. Juga kekecewaan akibat lamaran pelaku ditolak mantan pacarnya tersebut.

Selain teror bom mengatasnamakan mantan pacarnya tersebut, pelaku juga berkali kali melakukan teror lainya. Di antaranya melakukan teror terhadap Kampus mantan pacarnya kuliah hingga pesanan fiktif.

Dari perspektif psikologi, aksi teror yang dilakukan oleh H ini bisa dikarenakan kecemburuan patologis.

Kepala Biro Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi memaparkan bisa dikarenakan kecemburuan patologis (pathological jealousy).

Hal ini mendorong agresi instrumental, di mana pelaku dengan ancaman bom, ingin memanipulasi untuk memaksa loyalitas pacar, agar pacar kembali pada dirinya.

"Kondisi ini sering berakar pada attachment anxious-avoidant atau trauma masa kecil. Narcissistic traits memperburuknya, dengan pelaku melihat diri sebagai "pahlawan" atas nama cinta, mengabaikan konsekuensi hukum dan etis," katanya kepada Radar Bogor Sabtu 27 Desember 2025.

Di Indonesia, kata dia, norma maskulinitas toksik seperti "laki-laki harus dominan" memperkuat pola ini dalam dating violence. "Sehingga pelaku melakukan hal tersebut," paparnya.

Selain itu, kata dia, pelaku bisa juga mengalami distorsi kognitif, di mana sekolah dianggap musuh hubungan dia dengan pacarnya.

Hal ini memicu respons fight-or-flight ekstrem berupa ancaman (hoax bomb) untuk "menghukum" sekolah.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Metro Depok Kompol Made Oka mengatakan, perihal inspirasi pelaku melakukan aksi teror bom tersebut pihaknya masih terus mendalami.

Termasuk nantinya akan dilakukan pemeriksaan psikologis terhadap pelaku ancaman bom di Kota Depok tersebut. "Kami juga akan melupakan pemeriksaan itu," tukasnya. (faj)

Editor : Yosep Awaludin
#kota depok #bom #mahasiswa