RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti persoalan pengelolaan sumber mata air di kawasan kaki Gunung Ceremai yang dinilai berpotensi mengganggu aliran air bagi kebutuhan pertanian warga setempat.
Ia menegaskan, apabila saluran sungai diperbaiki dan air dialihkan untuk lahan pertanian, maka pasokan air yang selama ini digunakan PAM berpotensi mengalami penurunan.
Menurutnya, hal ini harus dipikirkan secara serius agar tidak menimbulkan masalah baru.
Dedi meminta jajaran terkait, termasuk Dirut PAM Tirta Kamuning Kabupaten Kuningan, Ukas Suharfaputra, untuk mempertimbangkan kembali mekanisme pengambilan air tersebut.
Ia menyampaikan, pengambilan air dari sumber yang saat ini dimanfaatkan PDAM dinilai mengganggu siklus air yang menjadi hak utama para petani di kaki Gunung Ceremai.
Dirut PAM Tirta Kamuning, Ukas Suharfaputra, menjelaskan bahwa sumber mata air yang dimanfaatkan PAM berada di kawasan Kaduela, Desa Kaduela, wilayah Kabupaten Kuningan.
Ia menyebut, izin pemanfaatan air diberikan oleh BBWS setelah melalui proses analisis.
Menurutnya, operasional PAM di lokasi tersebut baru berjalan kurang dari satu tahun sejak Mei lalu.
Ukas menerangkan, persoalan kekeringan sebenarnya bukan masalah baru.
Ia mengungkapkan, kekurangan air di wilayah tersebut telah terjadi sejak lama dan disebabkan oleh banyaknya pemanfaatan air ilegal yang tidak ditertibkan.
Namun, Gubernur Jawa Barat menegaskan, persoalan kepemilikan wilayah gunung tidak boleh menjadi dasar dalam penentuan hak pemanfaatan air.
Dedi Mulyadi menilai, semua pihak berhak menikmati sumber air dari Gunung Ceremai, tetapi prioritas utama harus diberikan kepada masyarakat yang tinggal di kaki gunung dan bergantung pada aliran air untuk pertanian.
Dedi menambahkan, kelestarian gunung sangat bergantung pada kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
"Kalau sawah mereka kekurangan air dan gagal panen, maka potensi kerusakan lingkungan bisa meningkat," tegas Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat juga mengingatkan, warga di sekitar gunung merupakan pihak yang pertama merasakan dampak bencana apabila terjadi kerusakan lingkungan, sementara pengguna air PAM di wilayah lain belum tentu mengalami dampak serupa.
Karena itu, Gubernur Jawa Barat meminta agar kebutuhan air masyarakat lokal dipenuhi terlebih dahulu sebelum dialokasikan ke sektor lain.
Ia menekankan, keberlanjutan lingkungan Gunung Ceremai tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan warga yang hidup dan bertani di sekitarnya. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim