RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memaparkan penyebab utama maraknya banjir di berbagai wilayah provinsi Jabar, mulai dari Bogor hingga Bekasi.
KDM (sapaan Dedi Mulyadi) menilai, persoalan itu tidak lepas dari tata ruang yang keliru dan masifnya alih fungsi lahan terbuka hijau menjadi kawasan komersial.
Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi saat mengikuti rapat bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait.
Dalam forum tersebut, KDM menyoroti bahwa kelemahan pembangunan di Jawa Barat terletak pada cara pandang yang berjalan sendiri-sendiri tanpa perencanaan terpadu.
Menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, berdasarkan analisis Kementerian Lingkungan Hidup, sekitar 1,2 juta hektare lahan terbuka hijau di Jawa Barat telah berubah fungsi menjadi kawasan perhotelan, pariwisata, permukiman, serta area komersial lainnya.
Kondisi itu dinilainya berpotensi memicu bencana besar dalam jangka panjang.
KDM juga mengingatkan, banjir besar yang melanda Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi pada Maret 2025.
Dari peristiwa tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengaku mulai mengambil langkah-langkah yang dianggap krusial.
Salah satunya, membongkar bangunan Hibisc Fantasy Puncak di Kabupaten Bogor yang berdiri di kawasan rawan bencana.
"Saya menggunakan cara intuisi yang saya miliki," tegas Dedi Mulyadi.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menuturkan, pembongkaran itu dilakukan setelah banjir parah terjadi di wilayah Puncak hingga menelan korban jiwa.
Selain itu, KDM menyebut masih ada sejumlah bangunan lain yang disegel dan tidak akan dibuka kembali.
Langkah berikutnya yang Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ambil adalah mendorong normalisasi Sungai Cileungsi untuk menekan risiko banjir di Bekasi dan sebagian Karawang.
Namun di lapangan, upaya tersebut terkendala karena bantaran sungai sudah dipenuhi perumahan, sehingga alat berat sulit beroperasi.
Meski demikian, KDM mengklaim intensitas banjir di Kota Bekasi kini mulai berkurang setelah dilakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyebut saat ini banjir besar hanya tercatat di dua titik, yakni wilayah Babelan dan kawasan Karawang, yang disebabkan oleh jebolnya tanggul Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Selain itu, banjir juga masih terjadi di sejumlah kompleks perumahan yang dibangun oleh pengembang dengan klaim sebagai kawasan bebas banjir.
KDM mempertanyakan tanggung jawab para developer setiap kali bencana melanda kawasan tersebut.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menilai, seharusnya pengembang perumahan turut tampil ke publik dan bertanggung jawab atas janji yang disampaikan kepada masyarakat terkait keamanan lingkungan hunian. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim