RADAR BOGOR - Usai pelaksanaan Salat Idulfitri di Gedung Sate, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyampaikan, pandangan mendalam mengenai makna Idulfitri, termasuk filosofi kepemimpinan yang menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.
Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi menjelaskan, Idulfitri memiliki dua makna penting yang perlu dipahami masyarakat.
Pertama adalah momentum untuk melakukan introspeksi dan penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadhan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengaitkan, hal tersebut dengan nilai-nilai budaya Sunda yang mengenal konsep tirakat sebagai bentuk pengendalian diri, sejalan dengan ajaran syariat Islam yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui ibadah puasa.
Selain itu, Dedi Mulyadi juga menyinggung, filosofi lokal yang mengajarkan, untuk mencapai derajat kemuliaan dan kebijaksanaan, seseorang harus mampu mengendalikan diri, termasuk dalam hal mengurangi waktu istirahat.
KDM (sapaan Dedi Mulyadi) memaknai, hal ini bukan sekadar begadang, melainkan bentuk tanggung jawab yang besar terhadap sesama.
Dalam konteks kepemimpinan, Dedi Mulyadi menegaskan, seorang pemimpin sejati adalah sosok yang selalu memikirkan kondisi rakyatnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menggambarkan, pemimpin tidak akan merasa tenang jika masih ada masyarakat yang mengalami kesulitan, baik dalam hal pendidikan, ekonomi, maupun akses layanan publik.
"Pemimpin yang sejati, pemimpin yang tidak bisa tidur," tegas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi di Gedung Sate usai salat id.
Menurut KDM, kepekaan tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan membuka akses layanan publik seluas-luasnya.
Dedi Mulyadi menekankan, pentingnya peningkatan akses di berbagai sektor, mulai dari fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, hingga institusi pendidikan dan layanan pemerintahan lainnya.
Dedi Mulyadi berharap, semangat Idulfitri dapat menjadi titik awal bagi seluruh pihak, khususnya para pemimpin, untuk meningkatkan kepedulian dan dedikasi dalam melayani masyarakat secara maksimal. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim