RADAR BOGOR - Momentum halal bihalal di Gedung Sate dimanfaatkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk mengungkap pendekatan berbeda dalam membangun sektor pariwisata di Jawa Barat.
KDM (sapaan Dedi Mulyadi) menilai, selama ini pembahasan pariwisata terlalu berkutat pada konsep dan kajian tanpa aksi nyata di lapangan.
Dedi Mulyadi menggambarkan, pola pikir yang terlalu teoritis justru menjauhkan program dari hasil konkret.
Dalam pandangan KDM, budaya Sunda mengajarkan pendekatan yang lebih sederhana yakni tidak banyak berbicara soal target besar, tetapi langsung bekerja secara konsisten.
Dedi Mulyadi menekankan, dirinya tidak pernah secara khusus menggembar-gemborkan target peningkatan kunjungan wisata.
Sebaliknya, kebijakan yang diambil lebih fokus pada langkah strategis yang berdampak langsung.
Salah satunya, pelarangan kegiatan Study Tour keluar daerah bagi pelajar.
Kebijakan tersebut, menurut KDM, bertujuan agar perputaran ekonomi tetap berada di wilayah lokal.
"Study tour dilarang. Kenapa? agar orang Jawa Barat itu tidak banyak uang di luar," tutur Dedi Mulyadi.
Selain itu, KDM juga menilai kegiatan studi tur kerap tidak sejalan dengan esensi pendidikan, karena lebih bersifat formalitas dibandingkan proses pembelajaran yang mendalam.
Dalam pandangannya, kualitas pendidikan harus dibangun dari kemampuan analisis terhadap lingkungan sekitar, bukan sekadar perjalanan seremonial.
Dedi Mulyadi juga mengingatkan, generasi muda perlu dibentuk dengan karakter tangguh, bukan dimanjakan dengan kenyamanan berlebih yang berpotensi melemahkan daya juang.
Lebih jauh, KDM memilih fokus pada pembenahan infrastruktur dan tata ruang sebagai langkah konkret pengembangan pariwisata.
Perbaikan jalan, penataan drainase, hingga penertiban bangunan liar yang menutupi akses ke pantai, perkebunan, maupun jalur publik menjadi prioritas utama.
Dedi Mulyadi juga menyoroti pentingnya penataan pedagang agar tetap bisa berusaha tanpa mengganggu estetika kawasan.
Menurut KDM, solusi yang diambil bukan menggusur, melainkan menyediakan alternatif tempat usaha yang lebih tertata dan menarik secara visual.
Dedi Mulyadi bahkan mendorong pemanfaatan kearifan lokal dalam desain fasilitas publik, seperti penggunaan arsitektur khas Sunda dan material tradisional.
KDM menilai, identitas lokal seharusnya menjadi daya tarik utama yang selama ini belum dimaksimalkan.
Pendekatan ini menunjukkan arah kebijakan yang lebih praktis dan berorientasi hasil.
Bagi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kemajuan pariwisata tidak ditentukan oleh banyaknya rencana, melainkan sejauh mana perubahan nyata bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan wisatawan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim