RADAR BOGOR - Halal bihalal di Gedung Sate, dijadikan panggung bagi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk memaparkan pendekatan unik dalam menyebarluaskan hasil pembangunan.
Dalam pandangan KDM (sapaan Dedi Mulyadi), perubahan besar sedang terjadi di tengah masyarakat.
Dedi Mulyadi menilai, saat ini justru rakyat yang aktif menyuarakan keberhasilan pembangunan, bukan lagi aparatur pemerintah.
Fenomena ini, jelas Gubernur Jawa Barat, terlihat dari maraknya konten di media sosial yang dibuat oleh masyarakat biasa, mulai dari kreator TikTok hingga YouTuber yang secara sukarela menampilkan berbagai hasil pembangunan di Jawa Barat.
Menurut KDM, kondisi ini membawa dampak ganda.
Selain memperluas jangkauan informasi, masyarakat yang membuat konten juga memperoleh keuntungan ekonomi dari tingginya jumlah penonton dan interaksi.
Dengan demikian, promosi pembangunan tidak lagi membutuhkan anggaran besar dari pemerintah, karena secara alami dilakukan oleh warga.
Dedi Mulyadi juga menanggapi fenomena kepadatan lalu lintas saat libur Lebaran.
KDM melihat kemacetan bukan semata persoalan, melainkan indikator meningkatnya mobilitas dan kunjungan masyarakat ke berbagai daerah.
Hal ini menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang signifikan.
Untuk menjaga keseimbangan, pemerintah daerah mengambil langkah dengan meliburkan sejumlah sektor transportasi tradisional seperti sopir angkot, kusir andong, hingga tukang becak.
Kebijakan ini, disertai dengan pemberian bantuan ekonomi langsung.
Dedi Mulyadi menjelaskan, anggaran yang dikeluarkan pemerintah provinsi relatif kecil, namun dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat.
"Saya lihat hanya Rp8 miliar," ucap Gubernur Jawa Barat.
KDM menilai, pendekatan ini lebih efektif dibandingkan pola bantuan sebelumnya yang cenderung terpusat pada kelompok tertentu.
"Biasanya, hibah numpuk Rp1 miliar pada satu kelompok, satu lembaga," sindirnya.
Dalam skema tersebut, bantuan disebarkan secara merata kepada ribuan penerima dengan nominal yang lebih kecil.
Hasilnya, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan Lebaran, mulai dari membeli pakaian hingga kebutuhan pangan.
Efek bergandanya pun terasa, karena uang yang diterima langsung berputar di pasar tradisional dan pedagang kaki lima.
Dedi Mulyadi melihat, pola ini sebagai strategi distribusi ekonomi yang lebih adil dan berdampak luas.
Ke depan, KDM berencana meningkatkan skala program tersebut agar manfaatnya semakin besar, termasuk memperluas jangkauan penerima hingga ke berbagai daerah di luar pusat kota.
"Tambah saja tahun depan Rp30 miliar, Rp40 miliar, Rp100 miliar, ya Rp50 miliar sudah pada lebaran ada ekonomi yang berputar," tutur Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dengan pendekatan ini, Dedi Mulyadi ingin memastikan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya terlihat di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat.
Perputaran ekonomi yang hidup di tingkat bawah menjadi indikator utama keberhasilan yang ingin terus didorong ke depannya. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim