RADAR BOGOR - Saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Subang, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melihat ada mobil berbaris mengangkut tanah.
"Dari mana? Dari sini mau diangkut ke mana? Ke PIK dia sudah nongkrong selama 1 hari 1 malam karena uang jalannya tidak turun," ungkapnya.
Dedi Mulyadi meminta agar tanah dikembalikan ke daerah asalnya.
Baca Juga: Nawana by Alana Hadir di Sentul City Bogor, Hotel Bintang 4 yang Mengusung Konsep Sanctuary Modern
"Saya yakin ilegal. Pertanyaan saya adalah kita ini punya aparat di desa ada kepala desa. Kenapa hal ilegal seperti ini dibiarkan? Apa fungsi kita? Apakah semua harus gubernur?" tanyanya.
Gubernur Jawa Barat mengungkapkan, setiap hari mendeklarasikan diri bahwa cinta tanah air. Kalau kita cinta tanah air, maka diri kita punya empat keterikatan.
"Dia terikat oleh tanahnya, dia terikat oleh airnya, dia terikat oleh udaranya, dan dia terikat oleh mataharinya. Jadilah manusia Indonesia seutuhnya," lanjutnya
Sehingga, Dedi Mulyadi menambahkan, mansuia tersebut tidak tersentuh oleh perusakan tanah, air, udara, dan matahari.
Ia mengatakan, harus mulai merubah paradigma kehidupan yang serba formalistik.
Menurut Gubernur Jawa Barat, tidak akan ada kemajuan di Subang atau Jawa Barat jika cara berpikir masih normatif.
"Gubernur berpikirnya bagaimana terpilih lagi tidak akan bisa. ASN berpikirnya tukin tidak boleh berkurang. DPR berpikirnya pokir tidak boleh berkurang. Semua orang berpikir normatif," tegasnya.
Dedi Mulyadi menjelaskan, tidak akan lahir tokoh-tokoh besar di Indonesia kalau semua orang cari aman, berpikir hanya karir dan masa depan.
"Saya tidak meyakini kita akan maju. Kenapa? Kita masuk pada wilayah normatif. Yang penting APBD-nya WTP. Persoalan WTP isinya apa? Lain belakang," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta maaf kepada Bupati Subang Reynaldy Putra Andita Budi karena terlambat datang.
Editor : Siti Dewi Yanti