RADAR BOGOR - Di tengah kekhawatiran akan kehilangan tempat tinggal, tangis haru seorang ibu bernama Ceu Nining pecah saat bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Momen tersebut terjadi di sebuah kawasan permukiman sederhana di Kota Bandung yang berdiri di atas lahan milik pemerintah.
Ceu Nining, warga asal Garut, selama ini tinggal di gubuk sederhana yang terancam dibongkar karena rencana penataan kawasan.
Baca Juga: Gardu Listrik PLN Meledak, Pemukiman hingga Mal di Bogor Barat Kota Bogor Gelap
Di balik kesederhanaannya, ia menyimpan beban besar yakni membiayai anak bungsunya yang sedang kuliah di Universitas Airlangga, (Unair) jurusan robotika.
Dengan penghasilan seadanya dari berjualan kopi di sekitar lapangan tempat warga bermain burung merpati, Ceu Nining mengaku hanya mampu mengirim uang sekitar Rp1 juta per bulan untuk kebutuhan makan dan kos anaknya.
“Kalau tempat ini dibongkar, saya takut tidak bisa lagi membiayai anak kuliah,” ujarnya lirih.
Kondisi semakin berat karena suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sebelumnya bekerja sebagai sopir, namun kini harus berhenti setelah mengalami kecelakaan kerja.
Mendengar langsung kisah tersebut, Dedi Mulyadi memberikan respons yang tak terduga.
Ia menegaskan, pentingnya mengubah pola pikir, termasuk tidak terus-menerus merasa sebagai “orang tidak mampu”.
Baca Juga: Cetak Instruktur Militan, PC PMII Kabupaten Bogor Gelar Pelatihan Instruktur Cabang
Namun di balik ketegasannya, Dedi Mulyadi justru menghadirkan solusi konkret.
Ia memastikan, penataan kawasan tetap akan berjalan, namun warga seperti Ceu Nining tidak akan dibiarkan tanpa kepastian.
Salah satu langkah yang langsung diambil adalah membantu proses perpindahan administrasi kependudukan Ceu Nining agar menjadi warga Kota Bandung, sehingga berhak mendapatkan hunian di rumah susun (rusun) yang disiapkan pemerintah.
Baca Juga: Mukota Kadin Kota Bogor Segera Digelar, Persiapan Dimatangkan
Tak hanya itu, Dedi Mulyadi juga berkomitmen membantu keberlanjutan pendidikan anak Ceu Nining.
Ia menyatakan akan menanggung biaya kos selama satu tahun, serta memberikan dukungan biaya hidup agar sang anak dapat menyelesaikan kuliahnya.
“Pendidikan anak harus tetap berjalan. Ini yang paling penting,” tegasnya.
Baca Juga: Buntut SK Belasan Anggota Satpol PP Kota Bogor Digadai Atasan, Sekda: Kami Proses ke BKN
Bantuan juga diberikan kepada suami Ceu Nining yang akan difasilitasi pekerjaan di lingkungan pemerintah provinsi, sebagai bagian dari upaya memastikan keberlangsungan ekonomi keluarga tersebut.
Suasana haru pun tak terbendung.
Ceu Nining berulang kali mengucapkan syukur atas bantuan yang diterimanya, bahkan menyebut pertemuan itu sebagai jawaban atas doa-doanya selama ini.
Baca Juga: Cuma 1 Hari, Polisi Rumpin Bogor Berhasil Temukan Mobil Curian dan Kembalikan ke Pemilik
Kisah ini menjadi potret nyata bagaimana kebijakan penataan kota dapat berjalan beriringan dengan pendekatan kemanusiaan.
Di tengah kekhawatiran kehilangan tempat tinggal, harapan baru justru hadir melalui kepedulian dan solusi nyata dari pemerintah.
Peristiwa ini sekaligus menegaskan bahwa di balik setiap kebijakan pembangunan, ada cerita masyarakat yang perlu didengar dan diperjuangkan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim