RADAR BOGOR - Suasana malam di sebuah desa di Kabupaten Subang berubah menjadi penuh keceriaan saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berbaur langsung dengan anak-anak desa dalam sebuah kegiatan budaya yang sederhana namun penuh makna.
Dalam momen tersebut, Dedi Mulyadi terlihat terus mendampingi anaknya Ni Hyang Sukma Ayu yang akrab disapa Nyi Hyang.
Dengan penuh kehangatan, ia mengajak sang anak berkeliling area pertunjukan untuk membeli berbagai mainan tradisional, mulai dari topeng hingga aneka permainan anak-anak.
Baca Juga: Pemkot Depok Garap 454 Titik Drainase untuk Atasi Banjir dan Jalan Rusak
Interaksi spontan itu, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh tawa.
Dedi Mulyadi bahkan membebaskan sang anak memilih sendiri mainan yang diinginkan, sekaligus mengajarkan kebahagiaan sederhana dari kehidupan desa.
Tak berhenti di situ, kebersamaan mereka berlanjut saat menyaksikan pagelaran Wayang Golek yang digelar di panggung terbuka.
Baca Juga: Kecelakaan di Jalan Bomang Bogor Libatkan Motor dan Mobil Bak, Satu Meninggal
Dalam suasana yang meriah, Nyi Hyang bahkan diberi kesempatan untuk naik ke atas panggung.
Di hadapan warga yang hadir, anak tersebut tampil percaya diri, menyapa penonton, hingga ikut memeriahkan acara bersama para seniman.
Momen ini pun disambut antusias oleh masyarakat yang hadir, menciptakan suasana kekeluargaan yang kental.
Tak hanya hiburan, kegiatan ini juga menjadi ruang pelestarian budaya lokal.
Pagelaran wayang golek yang menghadirkan dalang dari berbagai daerah seperti Kuningan dan Karawang, semakin memperkuat nilai tradisi yang ingin dijaga.
Dedi Mulyadi menegaskan, kegiatan seperti ini penting untuk menjaga kedekatan anak-anak dengan budaya daerah di tengah arus modernisasi.
Baca Juga: Gardu Listrik PLN Meledak, Pemukiman hingga Mal di Bogor Barat Kota Bogor Gelap
“Anak-anak harus tetap dekat dengan budaya lokal. Dari sini mereka belajar nilai, kebersamaan, dan jati diri,” ungkap Dedi Mulyadi di sela kegiatan.
Selain itu, momen ini juga menjadi gambaran pendekatan kepemimpinan yang humanis, di mana seorang kepala daerah hadir langsung di tengah masyarakat tanpa sekat.
Keceriaan anak-anak, kesederhanaan suasana desa, dan kekayaan budaya yang ditampilkan menjadi perpaduan yang menghadirkan pengalaman berharga, baik bagi warga maupun bagi sang gubernur.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, tetapi bisa hadir dari momen sederhana yakni bermain, tertawa, dan menikmati budaya bersama. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim