RADAR BOGOR - Momen mengharukan sekaligus inspiratif terjadi saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bertemu dengan kelompok nelayan asal Malang Selatan yang viral karena aksi mereka melepaskan hiu paus yang terjaring di laut.
Pertemuan tersebut berlangsung Lembur Pakuan, tak lama setelah video pelepasan hiu paus itu ramai diperbincangkan di media sosial.
Dalam dialog hangat, Dedi Mulyadi menggali langsung cerita di balik aksi yang dinilai langka tersebut.
Baca Juga: Wamenaker Apresiasi RS Ummi Bogor, Serap 120 Peserta Magang Program Nasional
Salah satu nelayan, Niko menjelaskan, mereka berasal dari wilayah Malang Selatan, Jawa Timur, yang dikenal memiliki perairan laut selatan dengan karakter ombak besar dan ekosistem yang masih alami.
“Kami dari Malang Selatan, Pak,” ujar Niko saat berbincang dengan Dedi Mulyadi.
Menurutnya, peristiwa hiu paus terjaring terjadi pada 10 April 2026 di perairan Sendang Biru, sekitar 26 mil dari garis pantai.
Baca Juga: Pohon Beringin Setinggi 20 Meter Tumbang, Akses Jalan di Mulyaharja Kota Bogor Tertutup
Hiu paus tersebut memiliki berat sekitar setengah ton dan diperkirakan masih berusia remaja.
Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama pada bagian siripnya, para nelayan memilih untuk melepaskan hiu paus tersebut kembali ke laut.
Keputusan ini bukan tanpa alasan.
“Sudah turun-temurun, Pak. Kalau hiu itu dilepas, rezekinya justru bertambah. Tapi kalau dibawa pulang, dipercaya bisa membawa hal buruk,” jelas Niko.
Selain faktor kepercayaan, tidak adanya pasar yang menerima hasil tangkapan hiu paus di wilayah mereka juga menjadi pertimbangan.
Namun, yang paling kuat adalah ikatan adat yang masih dipegang teguh oleh para nelayan.
Baca Juga: Peron 6 Sampai 8 Stasiun Bogor Ditutup Mulai 15 April 2026, Jadwal Perjalanan Kereta Disesuaikan
Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi mengapresiasi sikap para nelayan yang dinilainya menunjukkan kepatuhan terhadap nilai budaya sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut.
“Ini luar biasa. Tanpa aturan tertulis, tanpa penegak hukum, tapi ditaati. Ini bukti bahwa kearifan lokal masih hidup dan menjaga alam,” ujar Dedi Mulyadi.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyoroti kerasnya kehidupan nelayan.
Dari hasil dialog, diketahui bahwa pendapatan nelayan sangat bergantung pada musim.
Dalam kondisi terbaik, satu kapal bisa menghasilkan hingga 40 ton ikan dalam sekali melaut.
Namun di hari biasa, penghasilan per anak buah kapal (ABK) bisa hanya sekitar Rp100 ribuan per perjalanan.
“Artinya, dalam setahun rata-rata penghasilan nelayan tidak besar, karena hanya sekitar enam bulan efektif melaut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, para nelayan juga menghadapi tantangan ketergantungan modal dari pihak luar.
Mulai dari bahan bakar, logistik, hingga penyimpanan ikan, sebagian besar dibiayai oleh pemodal, sehingga hasil tangkapan harus dijual dengan harga yang telah ditentukan.
Baca Juga: Saldo KKS Masih Kosong? Ternyata Ini Penyebabnya dan Alasan KPM Bansos 5 Tahun Terancam Dicoret
“Problemnya di modal. Kalau semua biaya dari pihak lain, nelayan jadi tidak punya posisi tawar,” kata Dedi.
Meski begitu, di tengah keterbatasan tersebut, para nelayan tetap menjaga prinsip untuk tidak menangkap hewan laut yang dilindungi, termasuk hiu paus yang berperan penting dalam rantai makanan di laut.
Sebagai bentuk apresiasi, Dedi Mulyadi memberikan bantuan sebesar Rp20 juta untuk para nelayan, yang rencananya akan digunakan untuk makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
“Saya hanya ingin berterima kasih. Kalian sudah menjaga laut, menjaga kehidupan,” ucapnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di tengah tekanan ekonomi, masih ada masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai budaya dan kelestarian alam.
Baca Juga: Program MBG Dapat Rapot Hijau, Hasil Survei Cyrus Network: 65 Persen Masyarakat Puas
Aksi para nelayan Malang ini pun menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu berjalan seiring dengan upaya konservasi lingkungan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim