RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan rasa prihatin sekaligus menyayangkan tindakan tidak terpuji sejumlah pelajar di Purwakarta.
Para siswa tersebut diketahui melakukan aksi tidak sopan dengan mengacungkan jari tengah kepada guru mereka sendiri di lingkungan sekolah.
Bagi Dedi Mulyadi, tindakan ini mencerminkan adanya penurunan etika yang perlu segera ditangani secara serius namun tetap bijaksana.
Berdasarkan informasi dari Instagram @dedimulyadi71, pihak sekolah telah mengambil langkah cepat dengan memanggil orang tua siswa yang bersangkutan.
Kabarnya, pertemuan tersebut berlangsung cukup emosional dan diwarnai isak tangis. Para orang tua merasa terpukul dan sangat menyesali perbuatan anak-anak mereka yang dinilai telah melampaui batas kesopanan terhadap tenaga pendidik.
Mengubah Skorsing Menjadi Pembinaan Karakter
Menanggapi insiden ini, pihak sekolah sebenarnya telah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari. Namun, Dedi Mulyadi memiliki sudut pandang berbeda terkait efektivitas hukuman tersebut.
Menurutnya, sanksi bagi pelajar sebaiknya tidak hanya sekedar meliburkan mereka dari aktivitas sekolah, karena dikhawatirkan waktu luang di rumah justru tidak memberikan efek jera yang positif.
Baca Juga: Ular Sanca 4 Meter Bikin Geger Warga Cinere Kota Depok, Begini Penampakanya
Ia lebih mendorong adanya hukuman yang bersifat mendidik dan mampu memperbaiki karakter siswa secara langsung.
Dedi Mulyadi mengusulkan agar para siswa tersebut tetap diwajibkan hadir ke sekolah, namun dengan agenda khusus berupa tugas pembinaan karakter.
Tugas tersebut meliputi aktivitas fisik yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah, seperti membersihkan halaman, menyapu ruang kelas, hingga menjaga kebersihan toilet setiap hari.
"Daripada skorsing 19 hari di rumah, saya sarankan anak tersebut diberikan tugas membersihkan halaman dan toilet sekolah. Durasinya bisa satu hingga tiga bulan, tergantung perkembangan perilaku si anak," tutur Dedi Mulyadi dikutip dari Instagram pribadinya.
Gubernur Jawa Barat menekankan bahwa esensi dari sebuah hukuman bagi pelajar adalah manfaat jangka panjang untuk mengubah perilaku mereka.
Ia mengingatkan bahwa meskipun para siswa telah melakukan kesalahan fatal, mereka tetaplah anak-anak yang memerlukan bimbingan intensif.
Oleh karena itu, kolaborasi yang kuat antara guru di sekolah dan orang tua di rumah sangat diperlukan untuk memastikan proses pembentukan karakter ini berjalan maksimal demi masa depan siswa tersebut.***
Editor : Eli Kustiyawati