RADAR BOGOR - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi naik sejak Sabtu, 18 April 2026, pertambahan harga tersebut dikeluhkan sejumlah warga Kota Depok. Adapun jenis BBM yang terkoreksi, yakni Pertamax Turbo, Dex, dan Dexlite sedangkan Pertamax biasa jenis Ron 92 dan Pertamax Green 95 harganya tetap.
Rendra (30) warga Pancoran Mas menyesalkan pertambahan harga BBM nonsubsidi di tengah ekonomi yang belum stabil dan menilai dengan kenaikan tersebut, dikhawatirnkan akan banyak yang beralih ke BBM subsidi.
"Meski yang naik BBM nonsubsidi, paling tidak yang cukup memberatkan, khususnya sepeda motor, nanti, dikhawatirkan makin banyak yang beralih ke BBM subsidi," kata Rendra kepada Radar Bogor Minggu, 19 April 2026.
Kenaikan harga BBM non subsidi juga berdampak pada pengguna kendaraan yang memerlukan oktan tinggi, seperti yang dialami oleh Fajri warga Grand Depok City yang menyebut kenaikan yang signifikan cukup memberatkan.
"Iya, naiknya kalau Rp1.000 atau Rp2.000 sih masih wajar, ini naknya menjadi Rp19.400 per liter, dari harga Rp13.100 per liter," katanya kepada Radar Bogor.
Namun, kata dia hal itu sudah diantisipasi dan masih memiliki kendaraan yang bisa menggunakan oktan lebih rendah sehingga untuk menekan pengeluaran BBM kendaraan, bisa lebih banyak menggunakan kendaran yang lain.
"Kebetulan ada mobil yang bisa pakai oktan rendah, masih bisa pakai Pertamax Green, jadi Paling nanti lebih banyak pakai mobil itu sampai harga kembali turun," tuturnya.
Senada dikatakan oleh Anisa warga Kalimulya, Cilodong yang mengatakan naiknya harga Pertamax Turbo berdampak bagi pengguna Pertamax. Ia merasakan saat mengisi bensin Sabtu malam, antrean di dispenser Pertamax mengalami peningkatan.
"Biasanya antre Pertamax paling cuma beberapa kendaraan, ini kemarin sampai panjang," jelasnya.
Rudi warga Cilodong saat ditemui di SPBU di dekat Pasar Pucung mengaku kini beralih ke Pertamax, padahal biasanya isi bensin Pertamax Turbo untuk motornya.
"Iya, kebetulan motor sudah bore up, koompresinya cukup tinggi, jadi butuh oktan tinggi. Biasa isi Pertamax Turbo tapi sekarang turun ke Pertamax karena naiknya terlalu besar, untungnya masih bisa dikasih Pertamax," tuturnya.
Selain mulai banyaknya yang beralih dari Pertamax Turbo ke Pertamax, warga Depok mengaku was-was terjadi kelangkaan terhadap BBM subsidi seperti pertalite.
"Sekarang saja antrean selalu panjang, mungkin beberapa hari kedepan bisa makin banyak yang beralih ke pertalite, terlebih mereka yang punya kendaraan lebih dari satu," tuturnya.
Senada dikatakan Agung warga Cilodong lainya yang mengaku khawatir kenaikan harga BBM non subsidi berdampak pada ketersediaan BBM subsidi lantaran adanya peralihan konsumen.
"Mudah-mudahan saja nanti pertalite gak langka, khawatir juga kalau yang biasa pakai nonsubsidi, beralih ke BBM subsidi," tukasnya.
Sementara itu pantauan Radar Bogor antrean di sejumlah SPBU terlihat di jalur dispenser BBM non subsidi Pertamax sedangkan antrean BBM Subsidi juga terlihat mengular di beberapa SPBU.
Seperti yang terlihat di SPBU 3416414 Cilodong, Kota Depok, antrean kendaraan terlihat mengular.
Farida Salah satu petugas SPBU mengatakan untuk sementara ini masih relatif normal kendaran yang mengisi bahan bakar subsidi tetapi untuk Pertamax ada sedikit kenaikan.
"Sama saja sih, kalau yang Pertamax agak ada peningkatan sih," tukasnya.
Sementara itu, dikutip dari laman resmi Pertamina, harga Pertamax Turbo naik Rp6.300, dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter
Harga Dexlite naik Rp9.400, dari Rp14.200 menjadi Rp 23.600 per liter sedangkan Pertamina Dex juga naik Rp9.400, dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter, sementara itu Pertamax Green harganya tetap Rp12.900 begitu pula Pertamax 92 tetap Rp12.900.
Adapun harga BBM subsidi tidak berubah Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.(Faj)
Editor : Eka Rahmawati