Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Perlintasan Kereta Tanpa Palang di Sekitar Stasiun Bekasi Timur Disorot Imbas Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, Begini Pengakuan Penjaga

Muhamad Rifki Fauzan • Selasa, 28 April 2026 | 18:08 WIB
Kondisi perlintasan tanpa palang di dekat Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa, 28 April 2026.(Fauzan/Radar Bogor)
Kondisi perlintasan tanpa palang di dekat Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa, 28 April 2026.(Fauzan/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Perlintasan kereta di Bekasi Timur menjadi sorotan pasca kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL commuterline yang terjadi di lokasi tersebut. 

Ketiadaan palang pintu di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur menjadi salah satu titik rawan yang kembali memicu perhatian publik.

Di balik sorotan tersebut, terungkap bahwa perlintasan itu sudah lama dijaga secara manual oleh warga sekitar dengan sistem penjagaan yang terjadwal.

Penjagaan dilakukan secara bergantian setiap satu jam, selama 24 jam penuh, untuk membantu mengatur arus kendaraan saat kereta melintas di lintasan yang masih aktif digunakan tersebut.

Baca Juga: Update Tragedi Bekasi Timur: Kepala RS Polri Kramat Jati Sebut 10 Korban Meninggal Kecelakaan Kereta Sudah Diidentifikasi

Salah satu penjaga, Rasyid, mengaku sudah hampir 20 tahun menjalankan tugas menjaga perlintasan itu dan menjadi sumber penghasilan satu-satunya.

“Udah lama, saya aja sudah 50 tahun usianya, kalau dihitung-hitung udah 20 tahunan,” ujar Rasyid saa berbincang dengan Radar Bogor. 

Ia menjelaskan, penjagaan tidak dilakukan sendirian, melainkan bergantian dengan warga lainnya sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Baca Juga: Misteri Tabrakan Maut di Bekasi Timur Terkuak: Taksi Listrik Mogok di Rel, 15 Nyawa Melayang

“Iya ganti-gantian,” kata Rasyid saat ditemui di perlintasan tanpa palang pintu Bekasi Timur, Selasa, 28 April 2026 siang.

Warga sekitar, Titin, membenarkan adanya sistem penjagaan terjadwal tersebut. Menurutnya, para penjaga sudah memiliki pembagian waktu yang berjalan rutin setiap hari.

“Iya sejam-sejam bergantian, mereka ini sudah ada jadwalnya, dari jam 5 pagi sampai jam 5 pagi lagi,” ucapnya.

Meski demikian, ia menyebut penghasilan para penjaga tidak menentu karena hanya mengandalkan pemberian sukarela dari pengguna jalan.

“Lumayan, tapi kadang-kadang ada yang ngasih ada yang tidak,” katanya.

Titin menambahkan, perlintasan tersebut merupakan jalur aktif yang masih sering dilalui kereta, terutama saat pagi dan sore hari. 

Baca Juga: Pencairan Bansos PKH BPNT Tahap 2 Tahun 2026 Tak Lagi Sama, Ini Arti Status SPM, Gagal Verifikasi, dan Urutan Prioritas Desil

Ia juga mengakui masih ada pengendara yang nekat menerobos perlintasan meski sudah diperingatkan oleh penjaga.

“Kadang yang bandel itu yang nerobos, alasannya kadang tidak lihat,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun pemerintah berenacana akan membangun fly over di perlintasan tanpa palang tersebut. 

Rencana tersebut rupanya juga turut disambut baik oleh warga sekitar, seperti yang telah diutarakan oleh Syariah.

“Katanya sudah mau dibangun kaya semacam fly over kan, kalau saya si gimana baiknya aja,” terang Syariah.

Namun ia menyarankan sebelum fly over terbangun, pemerintah tidak menutup perlintasan tersebut sebab masih banyak warga yang membutuhkan.

“Gak ada jalan lain, ini kan perlintasan yang mau mengarah ke arah Taman Juanda, kalau ini ditutup nanti mau ke mana,” pungkasnya (bay)

Editor : Eka Rahmawati
#stasiun bekasi timur #perlintasan #kereta #kecelakaan