RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti truk kelebihan muatan yang melintas di jalan provinsi, salah satunya pengakut semen.
Saat mengunjungi Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Dedi Mulyadi mendapati truk pengakut semen dengan beban berlebih yakni mengangkut semen sebanyak 32 ton ditambah truk tersebut seberat 10 ton sehingga total 42 ton.
Padahal menurut anak buah Dedi Mulyadi yang turut hadir di lokasi menjelaskan jalan provinsi memiliki beban maksimal 8 ton sehingga jika dihitung truk tersebut termasuk 3 sumbu maka 42 ton dibagi 3 menjadi 14 ton yang artinya kelebihan beban 6 ton, sedangkan jalan provinsi sendiri memiliki beban maksimal 8 ton.
Baca Juga: Bukan Cuma PKH dan BPNT, 2 Bansos Tambahan Ini Juga Dikabarkan Mulai Disalurkan Awal Mei 2026
Mendengar penjelasan tersebut, gubernur Jawa Barat kemudian berencana membagi jalan provinsi menjadi 3 jenis terdiri dari jalan untuk pertanian, industri, dan pariwisata dengan beban maksimal yang berbeda-beda.
"Kita gak bisa pakai jalan standar provinsi yang 8 ton, makanya jalan dibagi 3, jalan untuk pertanian, jalan untuk pariwisata dan jalan industri," ujar gubernur Jawa Barat dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Dedi pun meminta agar standar jalan provinsi khusus industri dengan beban maksimal 8 ton ditingkatkan seperti jalan nasional yakni 12 ton atau bahkan lebih yakni 14 ton.
"Jalan industri ini seluruh jalan provinsi harus di-upgrade harus setara jalan nasional bebannya," kata Dedi Mulyadi.
Gubernur Jabar juga menyoroti jembatan yang kerap dilintasi truk-truk dengan beban muatan berlebih karena dikhawatirkan menimbulkan bencana.
"Jangan sampai jembatannya ambrol, kan kita mah gak pernah ngitung, tahu-tahu terjadi bencana aja, ribut, gak boleh, hitung dulu kekuatan jembatannya untuk berapa tahun, mau tidak mau, kalau itu sudah berat harus dianggarin pembangunan jembatan yang terlewati," tegas gubernur Jabar.
Sebab kata Dedi Mulyadi jika jembatan itu ambrol maka akan menghambat proses produksi industri itu sendiri.
"Gak bisa produksi juga ngangkutnya lewat mana, kita kan selalu tidak menghitung ke depan seperti apa, pokoknya jalan," cetusnya.
Editor : Eka Rahmawati