Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Ungkap Praktik Bank Emok, Curhat Nenek ke Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi soal Bunga Pinjaman Bikin Geleng Kepala

Lucky Lukman Nul Hakim • Minggu, 14 Juni 2026 | 20:31 WIB
Gubernur Jawa Barat, KDM di dalam angkot menanyakan soal bank emok.  (KANG DEDI MULYADI CHANNEL)
Gubernur Jawa Barat, KDM di dalam angkot menanyakan soal bank emok. (KANG DEDI MULYADI CHANNEL)

RADAR BOGOR - Perjalanan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuju kawasan Candi Batujaya, Kabupaten Karawang, menghadirkan banyak cerita menarik dari masyarakat. 

Salah satunya, saat KDM (sapaan Dedi Mulyadi) berbincang dengan seorang nenek penjual makanan keliling di dalam angkutan kota (angkot) yang ditumpanginya.

Percakapan yang awalnya santai itu, berubah menjadi pembahasan serius mengenai praktik pinjaman uang berbunga tinggi atau yang dikenal masyarakat sebagai "Bank Emok".

Baca Juga: Belakang Kantor Wali Kota Depok Kebakaran, Kios Pedagang Dilalap Api

Dalam dialog tersebut, Dedi Mulyadi mencoba menggali kondisi warga yang masih bergantung pada pinjaman informal untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun modal usaha.

KDM Tanyakan Keberadaan Bank Emok di Kampung Warga

Saat berbincang dengan nenek yang mengenakan kerudung dan pakaian berwarna ungu itu, Dedi Mulyadi menanyakan apakah praktik Bank Emok masih marak di lingkungan tempat tinggalnya.

Menjawab pertanyaan tersebut, perempuan itu mengaku, layanan pinjaman berbunga tinggi tersebut masih banyak ditemukan di kampungnya.

Menurut pengakuannya, bunga pinjaman yang dikenakan kepada nasabah tergolong tinggi dan memberatkan masyarakat.

"Kalau ada yang meminjam Rp5 juta, uang yang diterima tidak utuh. Ada yang hanya menerima sekitar Rp4 juta, tetapi tetap harus mengangsur berdasarkan nilai pinjaman awal," ungkapnya kepada Dedi Mulyadi.

Cicilan Tinggi Jadi Beban Warga

Dalam percakapan itu terungkap, peminjam harus membayar angsuran sekitar Rp280 ribu setiap dua pekan.

Artinya, dalam satu bulan total cicilan yang harus dibayarkan mencapai sekitar Rp560 ribu. 

Jika dihitung selama satu tahun, jumlah pengembalian jauh lebih besar dibanding dana yang diterima saat awal pinjaman.

Kondisi tersebut, menjadi salah satu alasan mengapa banyak keluarga akhirnya kesulitan melunasi kewajibannya.

Baca Juga: Terekam CCTV, Pembobol Ruko di Pancoran Mas Depok Ditangkap Usai Gasak Uang hingga HP

Mendengar cerita itu, KDM menyoroti besarnya beban bunga yang harus ditanggung masyarakat berpenghasilan rendah.

Takut Dipermalukan, Banyak Warga Enggan Berutang

Perempuan lansia tersebut mengaku, dirinya memilih menghindari pinjaman dari Bank Emok karena khawatir tidak mampu membayar cicilan.

Bukan hanya soal beban finansial, tetapi juga tekanan sosial yang muncul ketika terjadi keterlambatan pembayaran.

Ia menceritakan, petugas penagih kerap datang langsung ke rumah peminjam dan menunggu berjam-jam hingga pemilik rumah muncul.

"Banyak yang takut, malu. Kalau belum bisa membayar, rumahnya didatangi dan ditunggu terus," tuturnya.

Menurutnya, kondisi tersebut sering menjadi perbincangan warga dan menimbulkan tekanan psikologis bagi keluarga yang memiliki tunggakan.

Dedi Mulyadi Soroti Fenomena Utang Berbunga Tinggi di Masyarakat

Dialog yang berlangsung di dalam angkot itu menjadi gambaran nyata mengenai persoalan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat di pedesaan.

Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi kerap menyoroti praktik pinjaman berbunga tinggi yang dinilai berpotensi memberatkan warga kecil, terutama mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal.

Percakapan sederhana tersebut menunjukkan bahwa persoalan rentenir dan pinjaman berbunga tinggi masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah. 

Di sisi lain, kondisi itu juga memperlihatkan pentingnya edukasi keuangan serta akses pembiayaan yang lebih aman dan terjangkau bagi masyarakat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Kedai Pempek Paling Hits dan Ramai di Banten, Rasanya Autentik Palembang dan Harganya Pas di Kantong

Melalui dialog langsung dengan warga, Dedi Mulyadi berupaya memperoleh gambaran nyata mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari, mulai dari ekonomi keluarga hingga akses terhadap sumber pembiayaan yang sehat. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#dedi mulyadi #KDM #gubernur jawa barat