Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dan Kering, Waspada Risiko 5 Penyakit Ini

Yosep Awaludin • Senin, 22 Juni 2026 | 10:06 WIB
Ilustrasi kemarau ekstrem dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Salah satunya heatstroke.
Ilustrasi kemarau ekstrem dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Salah satunya heatstroke.

RADAR BOGOR – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan kesehatan seiring prediksi musim kemarau 2026 yang disebut akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengingatkan bahwa perubahan kondisi lingkungan saat kemarau ekstrem dapat memicu munculnya sejumlah penyakit, mulai dari diare hingga heatstroke.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat agar terhindar dari berbagai risiko penyakit yang umum terjadi selama musim kemarau.

Menurutnya, berkurangnya ketersediaan air bersih menjadi salah satu dampak utama kemarau panjang.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebersihan lingkungan maupun kebersihan pribadi, sehingga meningkatkan risiko penyebaran virus dan bakteri penyebab penyakit.

"Ketika pasokan air bersih menurun, praktik kebersihan bisa ikut terganggu. Situasi ini membuat mikroorganisme penyebab penyakit lebih mudah berkembang dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti diare," ujar Vini, Minggu 21 Juni 2026.

Baca Juga: Dua Pabrik Otomotif di Jatim Disebut Bakal Pindah ke Vietnam, Ancaman PHK Ribuan Buruh

Berikut beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim kemarau ekstrem:

1. Diare

Diare menjadi salah satu penyakit yang sering muncul ketika akses terhadap air bersih terbatas.

Kebersihan makanan, peralatan makan, hingga sanitasi yang kurang baik dapat mempermudah penyebaran bakteri maupun virus penyebab infeksi saluran pencernaan.

2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Kualitas udara yang memburuk saat musim kemarau juga dapat memicu meningkatnya kasus ISPA.

Debu, polusi udara, serta asap akibat pembakaran sampah atau lahan dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru kronis perlu lebih berhati-hati terhadap kondisi ini.

3. Dehidrasi

Cuaca panas berkepanjangan membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, seseorang berisiko mengalami dehidrasi.

Gejalanya dapat berupa rasa haus berlebihan, lemas, sakit kepala, mulut kering, hingga berkurangnya frekuensi buang air kecil.

4. Heatstroke

Paparan suhu tinggi dalam waktu lama juga dapat menyebabkan heatstroke atau serangan panas, yaitu kondisi darurat medis akibat kegagalan tubuh mengatur suhu.

Vini mengingatkan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami tanda-tanda heatstroke.

Baca Juga: Warga Bogor, 3 Hari Naik Transportasi Umum Jakarta dan Masuk Tempat Wisata Gratis

"Jika seseorang mengalami suhu tubuh di atas 40 derajat Celsius, kulit terasa panas dan kemerahan, disertai pusing atau muntah, segera mendapatkan penanganan medis karena kondisi tersebut bisa membahayakan," katanya.

5. Malnutrisi

Kemarau berkepanjangan juga dapat berdampak pada sektor pangan. Kekeringan berpotensi mengganggu hasil pertanian sehingga memengaruhi ketersediaan bahan makanan bergizi.

Jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dalam jangka waktu tertentu, risiko malnutrisi dapat meningkat, terutama pada anak-anak dan kelompok masyarakat rentan.

Tips Menjaga Kesehatan Saat Musim Kemarau

Untuk mengurangi risiko berbagai penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat melakukan langkah-langkah pencegahan, antara lain:

Vini menegaskan bahwa upaya pencegahan menjadi langkah penting agar masyarakat tetap sehat selama menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih ekstrem tahun ini.

"Kepedulian terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan harus ditingkatkan. Hindari membakar sampah atau lahan karena dapat memperburuk kualitas udara dan memicu gangguan kesehatan," tuturnya.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dampak buruk musim kemarau terhadap kesehatan diharapkan dapat diminimalkan. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#Gangguan kesehatan #jawa barat #dinas kesehatan #kemarau