RADAR BOGOR – Upaya pelestarian ikan Torsoro, salah satu spesies ikan air tawar endemik yang terancam punah, menunjukkan hasil menggembirakan.
Kelompok Hikamuci binaan Star Energy Geothermal Salak Ltd (Star Energy Geothermal) berhasil menghasilkan sekitar 3.000 anakan ikan Torsoro melalui teknik pemijahan buatan (stripping), sebuah terobosan yang diharapkan mampu mempercepat pemulihan populasi ikan tersebut di alam.
Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting dalam program konservasi yang dikembangkan di Desa Kabandungan, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Ketua Kelompok Hikamuci, Ujang Dimyati, mengatakan teknik stripping berhasil diterapkan pada enam indukan betina ikan Torsoro.
"Metode stripping yang kami lakukan terhadap enam indukan betina mampu menghasilkan sekitar 400 hingga 500 larva dari setiap induk. Hasil ini menjadi kemajuan besar dalam upaya pengembangbiakan ikan Torsoro," ujar Ujang di Desa Kabandungan, Rabu 1 Juli 2026.
Ikan Torsoro Terancam Punah
Ikan Torsoro, yang di Jawa Barat juga dikenal sebagai ikan Dewa atau Kancra, merupakan ikan endemik yang hidup di sungai berarus deras di kawasan pegunungan.
Baca Juga: Waktu Pembongkaran Pasar Bogor Diperpanjang, Ini Alasannya
Populasinya terus mengalami penurunan akibat laju pertumbuhan yang lambat, jumlah telur yang relatif sedikit, serta kerusakan habitat alami.
Melihat kondisi tersebut, Kelompok Hikamuci (Himpunan Kawula Muda Cipanas) sejak 2017 mulai menjalankan program konservasi di Kampung Cipanas, Desa Kabandungan.
Kelompok yang beranggotakan tujuh petani lokal itu sempat menghentikan aktivitasnya akibat pandemi COVID-19.
Vakumnya kepengurusan menyebabkan berbagai program konservasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Star Energy Geothermal Dampingi Sejak 2023
Program konservasi kembali bergairah setelah Star Energy Geothermal mulai memberikan pendampingan secara intensif sejak 2023 melalui program pemberdayaan masyarakat.
Pendampingan diawali dengan diskusi kelompok dan pemetaan potensi wilayah untuk menyusun strategi pengembangan konservasi yang lebih efektif.
Selanjutnya, perusahaan memberikan berbagai dukungan, mulai dari rehabilitasi kolam budidaya, penambahan indukan ikan Torsoro, pelatihan penguatan kelembagaan, pengembangan pakan berbasis maggot, hingga studi banding guna meningkatkan kapasitas anggota kelompok.
Teknik Stripping Percepat Perkembangbiakan
Salah satu kendala utama dalam pelestarian ikan Torsoro selama ini adalah proses reproduksi yang hanya mengandalkan pemijahan alami sehingga pertumbuhan populasi berlangsung sangat lambat.
Melalui pelatihan teknik stripping, proses pembuahan kini dapat dilakukan secara lebih terkontrol sehingga peluang keberhasilan penetasan telur meningkat secara signifikan.
Pada 2026, metode tersebut telah diuji dalam tiga kali percobaan. Setiap indukan betina mampu menghasilkan sekitar 400 hingga 500 larva yang kini dipelihara di akuarium pembesaran.
Baca Juga: Gebyar Siliwangi 2026 Resmi Ditutup, UMKM Raup Omzet Rp120 Juta
Selama tiga minggu pertama pemeliharaan, tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih ikan mencapai sekitar 65 persen.
Ke depan, Kelompok Hikamuci menargetkan metode stripping dapat dilakukan secara rutin setiap bulan untuk mempercepat peningkatan populasi ikan Torsoro.
Benih yang telah mencapai ukuran tertentu akan dipindahkan ke kolam pembesaran sebelum sebagian dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya melalui program restocking guna membantu pemulihan populasi ikan di alam sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
Budidaya Ikan Komersial Dukung Keberlanjutan Program
Selain menjalankan konservasi, sejak 2025 kawasan kolam Hikamuci juga dikembangkan sebagai sentra budidaya ikan nila dan ikan emas.
Kedua komoditas tersebut menjadi sumber pendapatan kelompok sehingga kegiatan pelestarian ikan Torsoro dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan.
Social Investment Specialist Star Energy Geothermal, Haris Nur Azhar, mengatakan pengembangan budidaya ikan komersial merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Sebagai bagian dari Barito Pacific, kami meyakini bahwa konservasi lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara bersamaan. Program CSR ini membuktikan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat selaras dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan," jelas Haris.
Baca Juga: Gaji Eks Karyawan PDJT Kota Bogor Baru Dibayar Sebagian, 106 Orang Belum Terima Haknya
Raih Apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat
Komitmen Star Energy Geothermal dalam menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) turut memperoleh apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pada April 2026, perusahaan menerima penghargaan atas kontribusinya dalam mendukung program pembangunan di Jawa Barat sepanjang 2025.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya kepada Gubernur, atas penghargaan yang diberikan. Pengakuan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat melalui operasional panas bumi yang berkelanjutan maupun berbagai program CSR," tutup Haris. (***)
Editor : Yosep Awaludin