BRT Ditarget Mulai Beroperasi 2027, Dedi Mulyadi: Era Baru Transportasi Modern

Eka Rahmawati • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 22:59 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) di wilayah Bandung Raya merupakan era baru transportasi modern. (Dok. Pemprov Jabar)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) di wilayah Bandung Raya merupakan era baru transportasi modern. (Dok. Pemprov Jabar)
RADAR BOGOR - Kawasan Bandung Raya mulai memasuki babak baru dalam pengembangan transportasi umum setelah dimulainya pembangunan infrastruktur Indonesia Mass Transit Project (Mastran) yang dibarengi dengan penandatanganan kerja sama penyediaan Public Service Obligation (PSO) untuk layanan angkutan massal di wilayah tersebut. Melalui proyek ini, sistem Bus Rapid Transit (BRT) ditargetkan beroperasi secara penuh pada 2027.

Layanan transportasi massal tersebut akan didukung berbagai infrastruktur pendukung, mulai dari jalur khusus bus, ratusan halte, depo, hingga penerapan Intelligent Transportation System (ITS) yang dirancang untuk menciptakan sistem transportasi publik yang saling terintegrasi.

Prosesi peletakan batu pertama yang digelar di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan, serta kepala daerah dari wilayah Bandung Raya.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menilai pembangunan sistem transportasi massal menjadi langkah penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat metropolitan terhadap layanan angkutan umum yang terhubung, berkualitas, dan dapat diakses seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: 12 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan kepada Warga Terdampak Kekeringan di Parung Panjang Bogor

Ia berharap seluruh proses pembangunan berjalan sesuai rencana sehingga mampu menghadirkan infrastruktur transportasi yang aman, lancar, dan memiliki mutu yang baik.

Menurut Dedi, hadirnya transportasi modern tidak hanya berkaitan dengan kecepatan perjalanan, tetapi juga harus didukung pelayanan yang semakin baik, sistem digital yang terintegrasi, serta konektivitas antarmoda yang memudahkan mobilitas masyarakat.

“Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya, kita berharap penyelenggaraan pembangunannya berjalan aman, lancar, tanpa gangguan, dan mampu menghadirkan kualitas infrastruktur yang bermutu tinggi,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangannya melalui laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan kualitas transportasi publik harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat. Kesadaran untuk menjaga kebersihan fasilitas umum, mematuhi aturan, serta membangun budaya tertib di ruang publik dinilai menjadi faktor penting agar layanan transportasi dapat berjalan optimal.

Selain itu, Dedi menekankan perlunya peningkatan kualitas pelayanan penunjang, seperti penyediaan trotoar yang layak, penerangan jalan, fasilitas kebersihan, hingga sistem pengamanan yang memadai.

Menurutnya, meningkatnya jumlah pengguna transportasi publik harus diantisipasi dengan penguatan aspek keamanan guna mencegah munculnya potensi tindak kejahatan.

“Kita memasuki era baru, transportasi modern bukan sekadar soal kecepatan, tetapi  pelayanan prima, terdigitalisasi, dan terkoneksi,” jelas gubernur yang kerap disapa KDM tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa pembangunan transportasi di kawasan metropolitan harus memberikan manfaat yang merata. Pertumbuhan kota-kota besar, menurutnya, perlu diimbangi dengan pemerataan pembangunan hingga wilayah pedesaan agar seluruh masyarakat dapat menikmati infrastruktur dasar yang memadai.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa tingginya mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi di kawasan Cekungan Bandung selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan yang berdampak pada produktivitas, biaya logistik, hingga kualitas lingkungan.

Karena itu, pemerintah menghadirkan Indonesia Mass Transit Project sebagai solusi jangka panjang untuk membangun sistem transportasi yang lebih efisien.

Ia menilai dimulainya pembangunan proyek tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan transportasi publik modern di Indonesia. Pemerintah, kata dia, menargetkan layanan angkutan umum yang nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi sehingga dapat menjadi pilihan utama masyarakat dalam beraktivitas.

Dudy menambahkan, sistem BRT nantinya akan terhubung dengan layanan kereta api maupun angkutan pengumpan (feeder). Selain itu, penandatanganan kerja sama PSO diharapkan mampu menjaga keberlanjutan operasional layanan sekaligus memastikan tarif tetap terjangkau bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan mengungkapkan bahwa proyek BRT Cekungan Bandung didukung pendanaan dari Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD).

Secara nasional, proyek Mastran memiliki nilai investasi sekitar USD264 juta atau sekitar Rp3,8 triliun, sedangkan pembangunan infrastruktur BRT di kawasan Cekungan Bandung memperoleh alokasi anggaran sekitar Rp1,3 triliun.

Dana tersebut digunakan untuk membangun jalur khusus BRT sepanjang 21 kilometer, enam depo utama, 719 halte off-corridor, 34 halte on-corridor, serta penerapan sistem transportasi pintar guna meningkatkan integrasi layanan.

Aan menjelaskan bahwa tahap awal pembangunan diprioritaskan pada pembangunan halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan koridor utama BRT. Selanjutnya, proyek akan dilanjutkan dengan pembangunan halte ikonik di kawasan Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, dan Kiara Artha Park, serta pembangunan depo tambahan di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.

Ia juga menyampaikan bahwa setelah beroperasi, layanan BRT ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan sekitar 15 menit di luar jam sibuk.

Aan optimistis seluruh rangkaian pembangunan dapat diselesaikan sesuai target sehingga masyarakat Bandung Raya segera menikmati layanan transportasi publik yang lebih efisien, andal, dan berkelanjutan.

Editor : Eka Rahmawati
dedi mulyadi brt transportasi