Soroti Jepang Usai Gempa, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Singgung Kelemahan Mitigasi Indonesia

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 19:44 WIB
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menjelaskan soal tanggap bencana di Jepang, Rabu 29 Juli 2026.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menjelaskan soal tanggap bencana di Jepang, Rabu 29 Juli 2026.

RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyampaikan belasungkawa atas bencana gempa bumi yang melanda Jepang. 

Menurut KDM (sapaan kang Dedi Mulyadi), peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, baik dari sisi pembangunan infrastruktur maupun perilaku masyarakat.

Pernyataan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri acara Groundbreaking Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka, Rabu (29/7/2026).

Jepang Dinilai Berhasil Menekan Korban Jiwa

Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi mengatakan Jepang merupakan salah satu negara yang paling sering mengalami gempa bumi.

Baca Juga: Dari GBK ke Pusaran Transfer Eropa, Zion Suzuki Diperebutkan Juventus dan PSG

Meski demikian, jumlah korban jiwa akibat bencana di negara tersebut relatif dapat ditekan karena didukung oleh berbagai faktor.

Menurut Dedi Mulyadi, salah satunya adalah konstruksi bangunan yang telah dirancang sesuai karakteristik wilayah rawan gempa.

"Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kami menyampaikan belasungkawa dan rasa duka yang mendalam kepada masyarakat Jepang. Jepang adalah negara yang sangat sering mengalami gempa bumi, tetapi korban jiwanya relatif sedikit," ujar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

KDM menjelaskan, banyak bangunan di Jepang menggunakan konsep konstruksi yang lebih fleksibel sehingga mampu mengurangi dampak saat terjadi guncangan.

Dedi Mulyadi bahkan menyebut konsep tersebut memiliki kemiripan dengan rumah adat Sunda yang memanfaatkan material kayu dan bambu.

Disiplin Masyarakat Jadi Kunci

Selain faktor bangunan, Dedi Mulyadi menilai kedisiplinan masyarakat Jepang juga menjadi alasan penting rendahnya angka korban saat bencana terjadi.

Menurutnya, warga Jepang telah terbiasa mengikuti prosedur keselamatan, memahami langkah evakuasi, serta mematuhi arahan dari petugas ketika terjadi keadaan darurat.

Baca Juga: 789 Dapur MBG di Bogor Serap 38.552 Warga Lokal, Perputaran Ekonomi Tembus Belasan Miliar per Hari

"Kedisiplinan masyarakat mereka sangat tinggi. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan mengikuti setiap petunjuk yang diberikan saat kondisi darurat," kata Dedi Mulyadi.

Ia menilai budaya disiplin tersebut menjadi contoh yang layak dipelajari oleh masyarakat Indonesia dalam membangun kesadaran menghadapi ancaman bencana.

Indonesia Perlu Perkuat Mitigasi Bencana

Dedi Mulyadi juga menyoroti masih adanya sejumlah tantangan dalam sistem mitigasi bencana di Indonesia. Menurutnya, pembangunan di berbagai daerah masih belum sepenuhnya mempertimbangkan karakteristik wilayah yang memiliki tingkat risiko bencana berbeda.

Ia menilai pola pembangunan seharusnya disesuaikan dengan kondisi geografis, baik di kawasan pegunungan, pesisir maupun daerah perkotaan.

Selain itu, Dedi mengatakan masih banyak masyarakat yang mengabaikan kajian teknis dan akademis terkait mitigasi bencana. Sikap tersebut, menurutnya, perlu diubah agar keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin.

Tak hanya itu, Dedi juga menyinggung pentingnya menjaga sistem peringatan dini atau early warning system.

Ia menyayangkan, masih adanya fasilitas pendukung mitigasi bencana yang tidak terawat bahkan hilang karena dicuri.

Baca Juga: Ini Resep Cungkring Legendaris Khas Bogor yang Gurih, Kenyal, dan Bikin Ketagihan

"Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Ke depan seluruh aspek mitigasi harus diperbaiki, mulai dari konstruksi bangunan, kedisiplinan masyarakat hingga sistem peringatan dini. Harapannya, ketika terjadi bencana di Indonesia, jumlah korban jiwa dapat ditekan seperti yang terjadi di Jepang," tutur Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga memerlukan komitmen pemerintah, kualitas pembangunan, serta kesadaran masyarakat dalam mematuhi prosedur keselamatan.

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
dedi mulyadi jepang bencana KDM gubernur jawa barat