Atasi Pengangguran, Ribuan Lulusan SMA, SMK, dan MA di Jawa Barat Dapat Pelatihan Kerja

Eka Rahmawati • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:21 WIB
Lulusan SMA, SMK dan MA asal Jawa Barat lolos seleksi Program SMK Go Global. (Dok. Diskominfo Provinsi Jawa Barat)
Lulusan SMA, SMK dan MA asal Jawa Barat lolos seleksi Program SMK Go Global. (Dok. Diskominfo Provinsi Jawa Barat)
RADAR BOGOR - Sebanyak 1.280 lulusan SMA, SMK, dan MA dari Jawa Barat dinyatakan lolos seleksi Program SMK Go Global sebagai salah satu upaya menekan angka pengangguran.
Program tersebut dirancang sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan kompetensi lulusan sekolah menengah agar memiliki kesiapan dan daya saing ketika memasuki pasar kerja internasional.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman menjelaskan bahwa para peserta akan menjalani pelatihan di sejumlah lembaga pendidikan vokasi yang berada di Jawa Barat.

Beberapa lokasi pelatihan tersebut antara lain Balai Latihan Kerja Kabupaten Garut, Universitas Indonesia (UI), Migran Center Universitas Teknologi Bandung (UTB), Migran Center Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, STIKES Budi Luhur, serta Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) Bandung.

Baca Juga: Aset Provinsi Jabar Dipersoalkan Warga Cihideung Ilir Bogor, Didorong Jadi Kopdes Merah Putih

Pelatihan disusun dengan materi yang menyesuaikan kebutuhan dunia kerja global. Peserta akan mendapatkan pembekalan mengenai operasional produksi, manufaktur, kemampuan bahasa Inggris, serta berbagai keterampilan teknis lainnya sesuai bidang yang dituju.

Herman menyampaikan hal tersebut seusai menghadiri Kick Off Pembukaan Program SMK Go Global di Universitas Teknologi Bandung (UTB), Kota Bandung, Rabu, 26 Agustus 2026 lalu. 

“Ini skema kolaborasi keren, kementerian terkait dengan perguruan tinggi, pemerintah dan perguruan tinggi berkolaborasi mempersiapkan anak-anak kita ikut di bursa kerja global melalui program SMK Global,” ujar Herman setelah menghadiri Kick Off Pembukaan Program SMK Go Global di Universitas Teknologi Bandung (UTB), Bandung sebagaimana siaran pers Diskominfo Provinsi Jawa Barat.

Ia menilai program tersebut merupakan bentuk kerja sama antara kementerian terkait, pemerintah, dan perguruan tinggi untuk mempersiapkan generasi muda Jawa Barat memasuki pasar kerja internasional.

Khusus di UTB, sebanyak 180 lulusan SMA, SMK, dan MA dari sejumlah daerah di Jawa Barat mengikuti pelatihan teknis. Program tersebut juga diikuti peserta dari Banjarnegara, Jawa Tengah. Mereka memperoleh pembekalan bahasa Inggris, Korea, dan Jepang, selain materi mengenai operasional produksi, manufaktur, serta keperawatan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana memperluas pola kolaborasi tersebut agar tidak hanya dilaksanakan oleh sejumlah perguruan tinggi tertentu. Herman mendorong seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, untuk turut membuka akses pelatihan sekaligus memperbesar peluang kerja bagi generasi muda.

Penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi swasta juga akan dilakukan melalui jejaring Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI). Kolaborasi tersebut nantinya diharapkan melibatkan pemerintah kabupaten dan kota hingga tingkat kecamatan serta desa dan kelurahan.

Herman menyebutkan bahwa Pemprov Jabar akan membangun sinergi dengan 27 kabupaten/kota, 627 kecamatan, serta 5.927 desa/kelurahan. Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan bagi anak muda dan mendukung target agar pada 2029 tidak ada generasi muda Jawa Barat yang berada dalam kondisi tidak memiliki pekerjaan.

“Pokoknya akan kolaborasi dengan semua komponen, bahu membahu untuk memastikan Jabar 2029 itu tidak ada anak muda yang nganggur,” jelas Herman Suryatman.

Menurut Herman, keberhasilan SMK Go Global tidak semestinya hanya dilihat dari terselenggaranya pelatihan selama dua bulan atau terpenuhinya aspek administrasi penggunaan anggaran. Ia menekankan bahwa program harus menghasilkan keluaran, manfaat, dan dampak yang dapat dirasakan secara nyata oleh peserta.

Ia berharap pengalaman bekerja di luar negeri nantinya dapat memberikan manfaat ekonomi bagi peserta. Selain memenuhi kebutuhan pribadi dan membantu keluarga, pendapatan yang diperoleh selama bekerja di luar negeri diharapkan dapat menjadi modal untuk membangun usaha setelah mereka kembali ke Indonesia.

Bagi peserta yang mampu membangun karier dengan baik di luar negeri, Herman mempersilakan mereka melanjutkan perjalanan profesionalnya. Namun, apabila telah memiliki tabungan dan pengalaman yang cukup, mereka juga diharapkan dapat kembali ke Indonesia untuk menjadi wirausaha dengan memanfaatkan modal serta pengalaman kerja yang diperoleh.

Karena itu, Herman meminta seluruh proses pelatihan dijalankan secara sungguh-sungguh. Pembekalan tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga perlu memperkuat pola pikir dan kesiapan mental peserta agar mampu menghadapi lingkungan kerja serta tantangan di negara tujuan.

Menurutnya, ketangguhan mental menjadi salah satu modal penting karena peserta akan menghadapi situasi dan tuntutan yang berbeda ketika bekerja di luar negeri. Semangat untuk berkembang dan sikap pantang menyerah perlu ditanamkan sejak masa pelatihan.

Akses Menjadi Faktor Penting

Herman juga menilai bahwa ketersediaan akses merupakan salah satu unsur penting dalam meningkatkan daya saing generasi muda Jawa Barat. Akses yang dimaksud tidak terbatas pada pendidikan dan pelatihan, tetapi juga mencakup kesempatan memperoleh modal serta penempatan kerja di dalam maupun luar negeri.

Dengan terbukanya kesempatan untuk meningkatkan kapasitas, mendapatkan dukungan permodalan, serta memperoleh akses pekerjaan secara luas, ia optimistis generasi muda Jawa Barat akan semakin mampu berkompetisi di dunia kerja.

Keterlibatan perguruan tinggi dinilai memiliki posisi strategis dalam memperluas akses tersebut. Menurut Herman, pemerintah melalui perangkat daerah tidak dapat bekerja sendiri dalam membuka kesempatan bagi anak muda. Perguruan tinggi perlu mengambil bagian dengan menyediakan pelatihan, mendukung akses permodalan, hingga membantu proses penempatan kerja.

Melalui kolaborasi yang semakin luas, setiap generasi muda di Jawa Barat diharapkan memiliki kesempatan yang lebih merata untuk meningkatkan kompetensi dan memperoleh pekerjaan sesuai potensinya.

Herman optimistis konsistensi dalam menjalankan program peningkatan keterampilan dan perluasan akses kerja dapat memberikan dampak terhadap kondisi sosial ekonomi Jawa Barat. Jika dilaksanakan secara berkelanjutan, upaya tersebut diharapkan mampu membantu menekan tingkat pengangguran sekaligus mengurangi angka kemiskinan.

Kick Off Program SMK Go Global diselenggarakan oleh Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bersama Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat sebagai bagian dari upaya mempersiapkan lulusan pendidikan menengah agar lebih siap memasuki dunia kerja global.

Editor : Eka Rahmawati
pelatihan kerja smk pengangguran jawa barat sma