RADAR BOGOR - Di balik kepergian Kanaya, tersimpan perjalanan panjang melawan penyakit yang tak banyak diketahui orang.
Lilis, ibunda almarhumah Kanaya, menceritakan bagaimana putrinya beberapa kali menjalani operasi sejak usia belia hingga akhirnya didiagnosis kanker ovarium.
Cerita itu disampaikan Lilis saat bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM.
Dalam pertemuan tersebut, Lilis mengungkap, sejumlah kondisi kesehatan yang pernah dialami putrinya.
Baca Juga: Utang BLBI Rp218,3 Triliun Lunas, Pemerintah Tetap Kejar Kewajiban Obligor
Kanaya Tak Melanjutkan Sekolah hingga SMA
Lilis mengatakan, Kanaya sempat tinggal bersama sang nenek di Purwakarta.
Kondisi kesehatannya membuat Kanaya tidak dapat melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA.
Kanaya hanya menyelesaikan pendidikan SMP.
Setelah itu, kondisi kesehatannya semakin sering terganggu sehingga ia tidak melanjutkan sekolah.
"Iya, tidak sekolah SMA karena sakit. Jadi hanya tamat SMP," kata Lilis.
Riwayat penyakit Kanaya ternyata sudah muncul sejak masih berusia sekitar 12 tahun.
Pada usia tersebut, Kanaya harus menjalani operasi pertamanya di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Sejak Usia 12 Tahun Sudah Jalani Operasi
Lilis mengungkapkan, operasi pertama Kanaya dilakukan ketika putrinya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saat itu, Kanaya menjalani operasi terkait miom.
"Umur 12 tahun Kanaya sudah operasi miom. Di Jakarta," ujar Lilis.
Baca Juga: Progres Pencairan PKH BPNT Tahap 3 Tembus 86 Persen, Ini Jadwal Tahap 4
Setelah operasi pertama, Kanaya kembali menghadapi masalah kesehatan beberapa tahun kemudian.
Saat berusia sekitar 19 tahun, ia menjalani operasi kedua yang berkaitan dengan kista.
Lilis mengaku, tidak terlalu mengetahui secara pasti nama rumah sakit tempat operasi kedua tersebut dilakukan.
Namun, ia mengingat, putrinya kembali harus menjalani tindakan medis karena masalah kesehatan pada bagian reproduksi.
Operasi Ketiga Berkaitan dengan Indung Telur
Masalah kesehatan Kanaya belum berhenti.
Pada usia sekitar 21 tahun, ia kembali menjalani operasi untuk ketiga kalinya.
Kali ini, operasi dilakukan di Rumah Sakit Pelni, Jakarta.
Menurut Lilis, tindakan tersebut berkaitan dengan indung telur atau ovarium.
"Yang terakhir itu di Pelni. Operasi indung telur," ungkapnya.
Baca Juga: Progres Pencairan PKH BPNT Tahap 3 Tembus 86 Persen, Ini Jadwal Tahap 4
Lilis menyebut, rangkaian penyakit yang dialami Kanaya bermula dari miom, kemudian kista, hingga akhirnya menjalani operasi pada indung telur.
Namun, keluarga tidak mengetahui bahwa kondisi tersebut kemudian berkembang menjadi kanker ovarium.
Kanker Baru Diketahui 15 Hari Sebelum Meninggal
Hal yang paling mengejutkan bagi keluarga, waktu antara diketahui adanya kanker hingga Kanaya meninggal dunia berlangsung sangat singkat.
Dedi Mulyadi mengatakan, kanker yang diderita putrinya baru diketahui sekitar 15 hari sebelum meninggal.
"Cuma yang jadi masalah, dari diketahuinya kanker sampai meninggal hanya 15 hari," kata KDM.
Kondisi Kanaya semakin berat karena sel kanker disebut telah menyebar hingga ke paru-paru.
Penyebaran tersebut menyebabkan Kanaya mengalami kesulitan bernapas dan terdapat cairan di paru-parunya.
Sejak Kecil Hanya Satu Ginjal yang Berfungsi
Selain riwayat penyakit pada organ reproduksi, Kanaya juga memiliki kondisi pada ginjal sejak kecil.
Lilis menjelaskan, sejak kecil salah satu ginjal Kanaya berukuran kecil dan tidak berfungsi sebagaimana ginjal lainnya.
Dengan demikian, hanya satu ginjal yang selama ini berfungsi.
Baca Juga: KH Romdhon Mundur, KH Diding Sirojudin Ditunjuk Jadi Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Bogor
"Karena ginjal Kanaya yang berfungsi cuma satu. Itu dari kecil," ujar Lilis.
Menurut Lilis, kondisi ginjal tersebut sudah dialami sejak Kanaya masih kecil dan bukan akibat operasi.
Keluarga Tak Menyangka Sakit Perut Menjadi Pertanda
Selama ini, KDM mengaku, tidak mengetahui bahwa Kanaya mengidap kanker.
Ia hanya mengetahui, Kanaya kerap mengalami sakit, terutama di bagian perut.
Kanaya biasanya menghubungi Dedi Mulyadi ketika sedang merasa tidak enak badan.
Keluhan yang disampaikan pun lebih sering berupa sakit perut.
"Pemahaman saya Kanaya itu sakit perut," tutur KDM.
Karena keluhan tersebut dianggap sebagai sakit yang biasa dialami Kanaya, KDM tidak menyangka, di baliknya terdapat penyakit serius yang kemudian diketahui sudah dalam kondisi berat.
Dedi Mulyadi juga mengatakan, Kanaya tidak banyak bercerita mengenai sakit yang dialaminya.
Selama sakit, Kanaya bahkan sempat meminta pengobatan herbal.
Baca Juga: Lewat Upstream Youth Champs, Mahasiswa Bogor Diajak Mengenal Industri Migas
Hingga akhirnya, kondisi Kanaya diketahui semakin memburuk.
Kanker yang terlambat diketahui telah menyebar ke paru-paru dan membuatnya kesulitan bernapas.
Perjalanan sakit Kanaya pun berakhir setelah sebelumnya menjalani sejumlah operasi sejak usia belia.
Bagi keluarga, waktu yang sangat singkat sejak kanker diketahui hingga kepergiannya menjadi bagian paling berat dari perjalanan tersebut. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti