Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Masih Ada Kasus Meninggal Secara tak Wajar di Kalangan Mahasiswa di Bogor, Psikolog Ungkap 4 Hal Ini yang Harus Diwaspadai

Muhamad Rifki Fauzan • Kamis, 8 Agustus 2024 | 09:21 WIB
Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta, Retno Lelyani Dewi.
Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta, Retno Lelyani Dewi.

RADAR BOGOR - Mahasiswa IPB University ditemukan tak bernyawa di tempatnya menginap di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Mahasiswa IPB University berinisial SN (18) itu ditemukan meninggal secara tak wajar dalam kamar mandi.

Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya pada tahun 2015, kasus serupa juga menimpa mahasiswa IPB University.

SN seharusnya saat ini sedang mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) yang dijadwalkan berlangsung hingga 10 Agustus 2024.

Tapi, tak disangka mahasiswa asal Bojonegoro, Jawa Timur itu ditemukan tak bernyawa pada Selasa (6/8) pukul 13.30 WIB di salah satu penginapan yang tak jauh dari IPB University.

Menurut laporan Survei Kesehatan Indonesia dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), prevalensi depresi Indonesia mencapai 1,4 persen pada 2023.

Artinya, 1 dari 100 orang yang berusia 15 tahun ke atas mengalami depresi.

Jawa Barat memiliki depresi tertinggi, 3,3 persen.

Selain itu, survei Kemenkes menemukan bahwa 61 persen orang depresi di usia 15 hingga 24 tahun pernah berpikir untuk meninggal secara tak wajar.

Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta, Retno Lelyani Dewi menuturkan, ada beberapa hal yang memicu seseorang untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Pertama, karena lingkungan pertemanan yang toksik.

Hal itu bisa berujung kepada bullying atau perundungan.

“Bully itu dampak psikologisnya luar biasa. Di beberapa kampus sering ditemukan korbannya meninggal secara tak wajar karena hal itu,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Di beberapa kasus juga ditemukan mahasiswa yang memilih mengakhiri hidupnya karena tekanan akademik.

Seperti mendapatkan indeks prestasi (IP) di bawah 3,5.

Ini kemudian menjadi tekanan untuk pribadi mahasiswa karena tidak ingin dipandang negatif oleh teman temannya.

Yang tak kalah serius adalah, interaksi yang tidak sehat dengan dosen.

Dalam sejumlah kasus ada mahasiswi maupun mahasiswa yang mengalami perbuatan tak menyenangkan oleh dosen.

Perbuatan tak menyenangkan, kata Retno, tidak melulu karena fisik.

Tetapi secara tidak sadar melalui cara verbal.

Kondisi tersebut sangat berbahaya karena memberikan trauma yang besar terhadap korbannya.

Sehingga apabila korban tidak mampu mengendalikan diri, bisa membuat depresi dan berpotensi mengakhiri hidupnya secara tak wajar karena merasa sudah tidak berharga lagi.

Kemudian ada pula faktor keuangan.

Beberapa kasus ditemukan mahasiswa memiliki masalah ketidakmpuan membayar perkuliahan yang membuat mahasiswa merasa tidak berharga.

Berdasar hal tersebut, Retno mengingatkan, apabila mendengar teman yang ingin meninggal secara tak wajar meskipun hanya bercanda jangan dipandang sebelah mata.

Sebab itu menjadi alarm kalau sedang ditimpa masalah yang besar. (cr1)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #mahasiswa ipb university meninggal #depresi