RADAR BOGOR—Menjelang akhir tahun 2024, Fakultas Teknik Unpak dan Fakultas Teknik dan Sains UIKA Bogor bekerja sama melindungi Situ Tunggilis yang terletak di Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Dengan luas 35,5 hektare, Situ Tunggilis merupakan bagian penting dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi, dan merupakan salah satu dari 258 situ di Kabupaten Bogor yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Hal itu dibahas akhir pekan lalu dalam seminar diseminasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat (PKM) dengan tema "Pengembangan Kawasan Wisata Berkelanjutan dalam Perspektif Ekologi di Situ Tunggilis" di Aula Fakultas Teknik Universitas Pakuan.
Dekan Fakultas Teknik Unpak Bogor, Dekan Fakultas Teknik dan Sains UIKA Bogor, Wakil Dekan, Kepala Program Studi, Dosen, dan Mahasiswa dari Universitas Pakuan Bogor dan Universitas Ibn Khaldun semuanya hadir di seminar tersebut.
Selain itu, hadir juga pejabat dari Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bogor, Camat Cileungsi, Kepala Desa Situsari, Bumdes Situsari, dan Ketua FKRL Kabupaten Bogor hadir.
Kemudian, Dekan Fakultas Teknik Universitas Pakuan, Singgih Irianto TH, dan Feril Hariati, Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Dalam seminar desiminasi itu, para dosen peneliti mempresentasikan enam karya ilmiah, masing-masing terdiri dari tiga penelitian dan tiga pengabdian.
Hasil penelitian berjudul "Analisis Peruntukan Ruang di Sempadan Situ Tunggilis" disampaikan oleh Singgih Irianto TH. Penelitian tersebut membahas tutupan lahan Situ Tunggalis, menentukan peluang dan ancaman, dan menghitung tutupan lahan untuk strategi pengelolaan simpadan Situ Tunggalis.
Feril Hariati mempresentasikan penelitian 'Kajian Tata Kelola Badan Perairan Situ Tunggilis'. Dalam penelitian ini, dia menerapkan pengembangan dampak rendah (LID), penggunaan tanaman air sebagai bio filter untuk menjernihan air, perencanaan bangunan pengatur muka air tinggi, dan menjaga keberadaan dan daya dukung.
Situ juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Selanjutnya, Gunawan Ismail mempresentasikan hasil penelitian berjudul 'Kualitas Air Situ Tunggalis dan Korelasinya dengan Perkembangan Eceng Gondok dan Ganggang'.
Kajian ini menjelaskan tentang situ dalam menghadapi ancaman penurunan kualitas air yang disebabkan oleh pencemaran limbah domestik, pertanian, dan industri. Pencemaran ini menyebabkan akumulasi nutrisi berlebih, terutama nitrogen dan fosfor, yang menyebabkan eutrofikasi.
Selain hasil penelitian, tim kolaborasi dari Universitas Pakuan dan Universitas Ibnu Khaldun Bogor juga mempresentasikan hasil pengabdian.
Yusi Febriani mempresentasikan presentasi pertama tentang 'Desain Gerbang Masuk Kawasan Wisata Situ Tunggalis'. Dia menjelaskan konsep desain gerbang yang fungsional, yang akan meningkatkan daya tarik Kawasan.
Sebagai arahan, perlu dirancang ulang untuk memenuhi fungsi yang jelas dan dirancang untuk menjadi identitas kawasan Situ Tunggilis, bukan hanya pagar dan bangunan retribusi.
Muhammad Hasan Wicaksono berbicara tentang 'Perancangan Fasilitas Umum Pedestrian Apung di Situ Tunggilis untuk Meningkatkan Pariwisata'. Dia menjelaskan bahwa luasan yang cukup untuk mendukung jumlah pengunjung yang ingin menikmati keindahan Kawasan Situ.
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa luas area pendestrian di sekitar lokasi telah berkurang sehingga diperlukan ruang tambahan untuk pedestrian di sekitar lokasi tersebut.
Fikri Adzikri memberikan presentasi tentang 'Pemanfaatan PLTS/Panel Surya Terapung untuk Mendukung Fasilitas Umum Bagi Pengunjung di Kawasan Wisata Situ Tunggilis'.
Kajian ini membahas penggunaan PLTS/Panel Surya terapung untuk penerangan jalan di sekitar distrik Situ Tunggalis. Penerangan pendistran akan digunakan untuk mengakses internet melalui jaringan Wi-Fi.
Permasalahan dan Peluang Situ Tunggilis
Salah satu kendala yang ditemukan dalam penelitian lapangan adalah akses wisata yang terbatas dan ketidakseimbangan sempadan di sisi selatan dan utara.
Selama musim kering, air situ menurun, sehingga ganggang dan eceng gondok menutupi wilayah timur. Menangkap ikan mujair dan nila adalah bisnis warga dan daya tarik wisata.
Situ Tunggilis berfungsi untuk tiga tujuan utama:
1. Ekonomi mendukung industri perikanan, pertanian, dan pariwisata.
2. Sosial Budaya mendorong tradisi dan kepercayaan masyarakat.
3. Ekosistem menjaga keanekaragaman hayati dan mengendalikan banjir.
Kolaborasi dengan berbagai pihak berwenang
Pemangku kepentingan seperti BBWS Ciliwung Cisadane, Sekda Kabupaten Bogor, dan dinas terkait seperti PUPR, DLH, dan Pariwisata hadir di acara tersebut.
Selain itu, diskusi diperkaya dengan partisipasi anggota masyarakat lokal seperti komunitas POKMAWAS, Kepala Desa Situsari, dan Camat Cileungsi.
Proposal untuk Pengembangan
Para peneliti mengusulkan manajemen berbasis ekosistem yang menggabungkan zonasi rekreasi, perikanan, dan tanaman air.
Untuk meningkatkan kualitas air, teknologi rendah dampak seperti biofilter tanaman air juga diusulkan. Langkah-langkah ini diharapkan mempercepat pengembangan kawasan wisata yang ramah lingkungan.
Antusiasme dan Optimisme
Peserta acara memberikan tanggapan yang positif dan berharap kolaborasi ini akan menjadi model untuk pengembangan lokasi lain di Kabupaten Bogor.
Singgih Irianto mengatakan bahwa kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat ini merupakan langkah penting menuju keberlanjutan. Dia optimistis bahwa upaya ini akan memberikan dampak nyata dalam waktu dekat.
Dengan pengelolaan berkelanjutan, Situ Tunggilis diharapkan akan meningkatkan kehidupan masyarakat lokal dan membantu mencapai tujuan pembangunan nasional. (mer)
Editor : Yosep Awaludin