Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Menyibak Asal Usul Patung Buddha Tidur Tajurhalang Bogor : Butuh Dua Tahun Membangun, Habiskan Ribuan Sak Semen

Arif Al Fajar • Sabtu, 25 Januari 2025 | 12:42 WIB
Ko Hengky, anak kelima pendiri Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat memperlihatkan album foto pembuatan Patung Buddha Tidur.
Ko Hengky, anak kelima pendiri Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat memperlihatkan album foto pembuatan Patung Buddha Tidur.

RADAR BOGOR - Salah satu Patung Buddha Tidur terbesar ada di Bogor. lokasinya di Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Tepatnya di Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat. Saat ini, usianya sudah hampir 13 tahun. Ada perjalanan spiritual dibalik pembuatan Buddha Tidur itu.

Foto pria mengenakan kemeja putih dengan dasi merah dan jas hitam terpampang di sebelah kanan Patung Buddha Tidur itu. Terbalut figura berwarna hitam dan putih.

Di bawah pigura itu tertulis nama Yap Swan Pho. Pendiri. Foto itu berada di atas altar. Tepat di bawah kaki sang Buddha Tidur itu.

Yap Swan Pho adalah nama Tionghoa dari Andy Suwanto Dhanudjaya, pendiri Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat, Kampung Jati, Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Adanya Patung Buddha Tidur di Vihara itu merupakan gagasan dirinya. Keinginan itu muncul dari perjalanan spiritual pria yang selama hidupnya akrab disapa om Ade tersebut.

Ia mengelilingi vihara hingga ke luar negeri. Kisah pembuka itu diceritakan Frangky Siswanto, saat Radar Bogor mengunjungi Vihara akhir pekan lalu.

Franky Siswanto ini pengurus harian di Vihara itu. Juga, anak dari pendiri Vihara Budhha Dharma. Ia anak kelima. Nama panggilannya Ko Hengky.

Saat itu Radar Bogor berbincang dengannya. Di meja yang berada di sebelah kiri setelah gerbang masuk vihara. Di meja itu ia menceritakan semua yang ia ketahui tentang Patung Buddha Tidur itu.

Sebelum bercerita, ia mengambil sigaret yang ada di mejanya itu. Iapun mempersilahkan wartawan Radar Bogor jika ingin turut menghisap sigaret. "Silahkan, kalau mau gak apa-apa. Biar santai ngobrolnya," tuturnya.

Iapun kemudian membakar sigaret itu dengan pemantik api berwarna kuning transparan. Sembari menghisap sigaret dengan filter berwarna putih itu, ia mulai menceritakan kisah dibalik pembuatan Patung Buddha Tidur. "Mulai ya," ucapnya kepada Radar Bogor.

Ko Henky, membuka album foto. Isinya proses pembuatan Patung Buddha Tidur. Ia memperlihatkan satu demi satu foto dalam album itu.

Di antaranya bentuk dasar Patung Buddha Tidur. Warnanya abu-abu. Ada empat foto, berada di halaman tengah. "Ini foto-foto prosesnya," ujar Ko Hengky.

Prose pembuatan Patung Buddha Tidur itu dimulai pada tahun 2010. Proses pembuatan dilakukan oleh seniman dari Jawa Timur. Seniman ukir. "Ada 14 seniman ukir yang membuat Patung Buddha Tidur itu," katanya.

Proses pembuatan Patung Buddha Tidur itu cukup lama. Butuh dua tahun. Mulai dari kerangka, pengecoran hingga ukir dan pengecatan. Tidak mudah dalam membuat Patung Buddha Tidur itu.

Terlebih pada bagian wajah sang Buddha. Saat itu Pendiri Vihara berkali-kali mengubah wajah Patung sang Buddha hingga dirasa sesuai dengan apa yang ada dalam penggambaran nya.

"Beberapa kali revisi, sampai pembuat patung sempat kebingungan. Namun akhirnya ketemu dan jadi seperti saat ini," tuturnya.

Wajah sang Buddha ini menjadi yang paling sulit dalam proses pembuatannya. Hal itu tidak terlepas dari perjalanan spiritual pendiri Vihara yang berkeliling ke berbagai Vihara di sejumlah negara.

Sehingga untuk mendapatkan wajah yang pas sesuai dengan penggambaran membutuhkan beberapa kali revisi.

"Saat itu para seniman ini kesulitan dalam membentuk wajah sang Buddha, karena Sang Buddha ini merupakan manusia yang berbeda daripada umumnya," tuturnya.

Selain itu proses pengukiran pun memerlukan waktu yang lama. Tidak mudah mengukir Patung Budha tidur yang terbuat dari semen itu. Keras.

Untuk pembuatan Patung Buddha Tidur juga memerlukan bahan baku yang cukup banyak. Ribuan sak semen digunakan untuk pembuatan patung budha tidur itu. "Untuk semen, itu kurang lebih memakai 5.000 sak semen," tuturnya.

Sebelum pembuatan Patung Buddha Tidur dari semen ini, pendiri Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat, Om Ade ini hendak membuat Patung Buddha Tidur dari batu.

Namun, setelah dipertimbangkan secara matang, ia memilih membangun Patung Buddha Tidur dengan semen.

"Awalnya mau dari batu, tapi karena dirasa banyak kendala, akhirnya diputuskan dengan mengunakan semen," tuturnya.

Selain proses pembuatan, tata letak Patung Buddha Tidur di Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat, Kampung Jati, Desa Tonjong Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor tidak sembarangan.

Pendiri Vihara, om Ade menghitung betul. Mulai dari posisi wajah sang Buddha, arah tidur sang Buddha hingga jumlah tangga menuju Vihara. "Iya, dihitung sedetail mungkin oleh beliau," paparnya.

Jadi Ikon Dan Bisa Menarik Umat untuk Datang

Patung Buddha Tidur sepanjang 18 meter dan tinggi lima meter itu bukan tanpa alasan dibangun.

Ko Hengky mengatakan, tujuan pendiri Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat Om Ade saat itu agar menarik umat untuk beribadah ke Vihara. Juga menarik orang agar bisa berbuat kebaikan dengan mendatangi Vihara ini.

"Harapan dari pendiri, bisa jadi ikon di Vihara. Untuk bertambahnya pengunjung atau umat yang datang juga melakukan kegiatan sosial di sini,"ujarnya.

Vihara dibangun 2006

Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat, Kampung Jati, Desa Tonjong, kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor ini sudah berusia 19 tahun. Vihara pertama kali dibangun pada tahun 2006.

Saat itu, pendiri Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat Om Ade merupakan warga asli kampung tersebut. Ia memiliki tanah di Kampung Jati, Desa Tonjong Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor.

Ia kemudian membangun Vihara di tanah milik pribadi yang kemudian ia wakafkan. "Pertama itu yang bagian sana," kata Ko Hengky sembari menunju ke bangunan pertama Vihara.

Baca Juga: Jadwal Semifinal Indonesia Master 2025 Hari Ini: Jonatan Christie, Rinov/Lisa, Fajar/Rian Berburu Tiket Final

Kemudian dibangun altar yang lainya hingga Patung Buddha Tidur tersebut. Untuk jumlah altar sendiri, di Vihara Budhha Dharma dan 8 Posat, Kampung Jati Desa Tonjong Kecamatan Tajurhalang Kabupaten Bogor sendiri ada 21. Sedangkan luas Vihara sendiri ada 9.800 meter. (all)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #tajurhalang #Patung buddha tidur