RADAR BOGOR - Psikolog mengungkap fakta soal insiden pemukulan anak di bawah umur yang terjadi di turnamen basket di Bogor, beberapa waktu lalu.
Menanggapi insiden aksi pemukulan anak dibawah umur itu, Kepala biro Psikologi Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi menjelaskan hal-hal yang menjadi pemicunya.
Psikolog asal Bogor yang akrab disapa Retno itu menyebut, bahwa aksi pemukulan anak di bawah umur, atau siapapun pelakunya, termasuk ke dalam perilaku bullying, apalagi dalam hal ini dilakukan secara fisik.
Dan secara umum, Retno membeberkan beberapa pemicu terjadinya aksi prilaku bullying.
Pertama boleh jadi pelaku adalah korban dari bullying itu sendiri.
"Sebab ada beberapa kasus yang menyebutkan bahwa pelaku adalah bekas korban dari prilaku bullying yang menimpa kepada dirinya di masa lampau," jelas Retno pada Radar Bogor.
Sehingga Retno menjelaskan ketika pelaku ini merasa memiliki power lebih dari korban, hal sekecil apapun yang memantik emosinya maka bukan tidak mungkin prilaku kekerasan akan juga dilakukan.
Kemudian yang kedua, Retno membeberkan bahwa pelaku bullying itu sendiri boleh jadi korban atas kondisi lingkungan sosialnya, termasuk lingkungan keluarga di rumahnya.
Retno menjelaskan jika kondisi lingkungan keluarga terbilang permisif, sering mempertontonkan kekerasan di depan pelaku maka bukan tidak mungkin peristiwa itu akan terekam di memorinya.
"Ketika dia lagi kesel, maka dia akan senantiasa reflek akhirnya dia melampiaskan aksi kekerasan itu kepada korban," beber Retno, Senin (24/2/2025).
Kemudian yang berikutnya, Retno menjelaskan bahwa prilaku bullying terjadi bisa saja akibat dari tontonan yang pelaku lihat dari sejumlah platform.
Untuk mengidentifikasi motif sebenarnya dari peristiwa ini, maka Retno menyarankan kepada keluarga pelaku untuk segera melakukan konsultasi ke ahlinya atau dalam hal ini psikolog.
Sebab di dalam aturan main psikologi, Retno menjelaskan ada alat yang bisa mendeteksi kondisi terkini mental seseorang.
"Kalau memang hasil konsultasi itu disebabkan karena tontonan maka keluarga harus terus mengawasi apa yang dilihat oleh anak, agar kejadian serupa tidak terjadi lagi," pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga