RADAR BOGOR - Banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor pada Minggu (2/3/2025) malam mengakibatkan Jembatan Cijulang terputus.
Jembatan Cijulang, yang merupakan akses utama penghubung antara Desa Cipayung Girang dan Desa Kopo, Kabupaten Bogor itu hilang tak bersisa tersapu banjir bandang dengan aliran ai yang begitu deras.
Salah satu warga, Nanang menuturkan, banjir bandang yang memutuskan Jembatan Cijulang Bogor terjadi pada pukul 21.00 WIB. Banjir itu timbul usai hujan deras yang melanda wilayah tersebut sejak pukul 15.00 WIB.
"Air mulai naik sekira jam 20.00 WIB. Saya melihat air sudah melimpas ke atas jembatan. Tidak berselang lama aliran sungai bertambah deras bahkan meluap ke permukiman warga," tutur Nanang.
Saat melihat hal itu Nanang langsung masuk ke dalam rumahnya yang berjarak sekira 20 meter dari bibir Sungai Ciliwung.
Luapan air kemudian menghantam bagian depan rumahnya. Nanang bersama Istri dan 1 anaknya kemudian menahan pintu rumah dengan batu dan kain agar tidak dimasuki air.
Meski demikian air berhasil menyapu sisi kiri rumahnya yang kerap dijadikan sekolah Raudatul Athfal (RA). Seluruh perabotan di ruangan ini pun luluh lantak.
Selain rumah Nanang, banjir juga menyapu sebuah musala dan 4 rumah tetangganya. Salah satu di antaranya bahkan hancur sebagian karena derasnya hantaman banjir bandang tersebut.
"Saat itu terjadi terdengar hantaman batu-batu yang kemungkinan suaranya berasal dari jembatan. Setelah banjir surut ternyata jembatannya sudah terputus bahkan hilang," terang Nanang.
Terputusnya Jembatan Cijulang membuat warga Desa Kopo yang berada disebrang jembatan mesti menempuh jarak jauh untuk bisa mengakses jalan raya. Mereka mesti menggunakan jalan alternatif yang terjal dan berjarak 3 kali lipat lebih jauh.
"Mereka (warga Kopo) biasanya kalau ke depan (jalan raya) perlu waktu 5 menit saja. Sekarang mungkin sekira 30 menit," ucap dia.
Nanang berharap pemerintah daerah setempat bisa segera memberikan penanganan atas bencana yang terjadi. Sebab menurut dia kemampuan warga amat terbatas.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga