RADAR BOGOR - Pangeran Sake jadi salah satu sosok penting dalam sejarah peradaban islam khususnya di Bogor. Keberaniannya saat melawan VOC Belanda hingga kepiawaiannya dalam berdakwah, membuat dirinya dikenal sebagai ulama yang dekat oleh masyarakat.
Pangeran Sake sebagai ulama ternama di Bogor memiliki nama asli Muhahammad Syarifudin Shohe. Beliau adalah anak ke 11 dari Raja Mashur di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa.
Setelah Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap oleh VOC pada tahun 1682, maka Pangeran Sake menemani sang kaka, Pangeran Purbaya, untuk melanjutkan perjuangan ayahnya di Bogor.
“Mereka berjuang melakukan griliya di Citereup, Cikeas dan Cijayanti, namun kakanya tertangkap atau menyerah di Gunung Gede, dan akhirnya dilanjutkan oleh Pangeran Sake,” beber Hendra Astari Sejarawan Sunda.
Keberanian Pangeran Sake melawan penjajah disebut Hendra sama seperti sang ayah. Kakinya tidak pernah mundur meski senapan dikepalanya.
Namun Hendra menjelaskan karena Pangeran Sake juga seorang manusia akhirnya beliau sempat ditangkap ke Sri Lanka. Pada tahun 1740 beliau dikembalikan lagi ke Citereup oleh VOC.
Setelah tragedi penangkapan itu, Pangeran Sake merubah strategi perlawanannya. Saat itu dia lebih memilih untuk memperkuat internal dengan cara bardakwah.
“Karena pada tahun segitu orang Bogor masih mengenal dan kental dengan ajaran Pajajaran atau kepercayaan Sunda,” terang Hendra pada Radar Bogor, Jumat (7/3/2025).
Lebih lanjut, Hendra menerangkan cara berdakwahnya Pangeran Sake juga cukup unik. Beliau tidka mendirikan institusi pendidikan.
Melainkan hanya mengandalkan majlis taklim atau pengajaran nilai-nilai kedermawanan. Namun kata Hendra startegi yang digunakannya itu cukup berhasil untuk menarik perhatian masyarakat.
Terbukti kata Hendra makamnya yang berlikasi di Citereup itu hingga saat ini sering dikunjungi para peziarah. Bahkan setiap pengajian nama Pangeean Sake selalu disebut untuk dibacakan surat Fatihah.
Yang jauh lebih menarik, Hendra menerangkan nama Pangeran Sake juga dikenal dekat oleh Ummat Tiong Hoa. Sampai-sampai dibeberapa Kelenteng yang ada di Bogor itu memilik Altar pemujaan untuk beliau.
“Seperti Klenteng yang ada di Pasar Bogor Batutulis Citereeup itu selalu ada Altar pemujaan untuk Pangeran Shake, Itu selalu ada,” ujar Hendra.
Hal itu bukan tanpa alasan, Hendra menyebut korban Genosida tahun 1744 yang lari ke Citereup rupanya dilindungin penuh oleh Pangeran Sake.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga