RADAR BOGOR - Mama Bakom merupakan salah seorang ulama kharismatik berdarah Banten.
Semasa hidup, sosoknya dinilai sangat berpengaruh dalam penyebaran islam di kalangan masyarakat Bogor.
Muridnya pun berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia
Mama Bakom memiliki nama lengkap KH Tubagus Asyari.
KH Tubagus Asyari diperkirakan lahir pada tahun 1950.
Sosoknya merupakan putra dari salah seorang ulama terkemuka KH Kalim asal Kodehejo Pandeglang Banten.
Kedalaman ilmu agama yang dimiliki Mama Bakom bukan hanya datang dari sang ayah.
Melainkan dirinya juga lama mengenyam pendidikan di Makkah.
Semasa muda dirinya didik langsung oleh Syeh Nawawi Al Bantani.
Selapas mengenyam pendidikan, dirinya langsung diberi tugas untuk menyebarkan ajaran islam ke nusantara salah satunya Bogor.
Daerah yang pernah kali disambanginya ialah Kampung Jogjogan Curug Cilember.
“Setelah itu kemudian beliau berhijarah ke sini Ciawi, cuma saya ga tau percis abah datang ke sini tahun berapa, yang pasti usianya masih sangat muda,” beber KH Tubagus Kholid, Cicit Mama Bakom.
Kehadiran Mama Bakom ke Ciawi jadi perhatian masyarakat sekitar.
Kholid menyebut abahnya itu langsung banyak dicintai oleh warga sekitar.
Sebab saat berdakwah Mama Bakom membawa nilai-nilai perdabaian.
Khalid menerangkan Mama Bakom tidak pernah usil atas berbagai macam perbedaan fatwa.
Baginya selagi ajaran itu membawa kemaslahatan maka tidak perlu diperdebatkan.
“Oleh karenanya dulu Ciawi Bakom dikenal dengan hutan Hutan Bukmu artinya bisu, sebab tidak pernah ada keributan disini karena abah tidak pernah mengajarkan itu, dan sampai saat ini kami sangat menjunjung tinggi ajaran tersebut,” jelas Khalid.
Khalid enggan menceritakan banyak terkait karomah yang dimili sosok Mama Bakom semasa hidupnya.
Namun Khalid menjelaskan kalau abahnya itu sangat senang untuk melakukan ibadah puasa.
Sampai-sampai Khalid menceritakan bahwa Mama Bakom pernah puasa selama tiga tahun.
Pahala di tahun pertama dikhususkan untuk kebutuhan pribadinya. Kemudian tahun berikutnya untuk anak cucu cicitnya.
“Dan tahun ketiga untuk para muridnya, dia tidak pernah membedakan bedakan santri, sehingga hal itulah yang menjadi strategi dakwahnya, dan kini muridnya banyak tersebar di berbagai daerah,” ujar Khalid.
Khalid menerangkan Mama Bakom piawai membuat kaligrafi.
Ilmu itu didapat lantaran Mama Bakom juga pernah berguru denga Syeh Abdil Karim di Makkah.
Namun Khalid membantah terkait informasi yang menyebutkan Mama Bakom melakukan jual beli tulisan Al Quran.
Tulisan tulisan tersebut dijuak seharaga satu kerbau.
“Abah memamg pandai membuat kaligrafi tapi tidak pernah melakukan itu, jadi dulu ceritanya ada seorang Kyai yang menanyakan hukum tradisi rebo kasan. Abah menjawab jawabannya ada di dalam kitab yang terletak di kamarnya, pas dibuka kitab tersebut sebesar lemari, jadi mungkin informasi itu bermual dari sanah,” ucapnya.
Khalid mengaku dirinya juga tidak mengetahui tahun pasti Mama Bakom wafat.
Dia hanya menyebutkan bahwa saat ini keluarga telah menghelat 129 kali haul.
Itu kegiatan memperingati hari wafat ulama-ulama besar.
Beliau dimakamkan itu Bakom Ciawi, letaknya dekat dengan Pondop Pesantren yang juga dulu dirintis oleh Mama Bakom yakni Pesantren Ar-Rohmah Bakom (rp1)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim