RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi langsung menindaklanjuti adanya kabar pemotongan insentif untuk sopir angkot di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
"Ada informasi yang kita dapatkan bahwa insentif atau bantuan dari gubernur untuk para sopir angkot itu ada pemotongan," ujar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, para sopir angkot hanya menerima Rp800 ribu padahal seharusnya Rp1 juta.
Kali ini Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi langsung menelpon dan meminta keterangan dari sopir angkot.
Salah seorang sopir angkot Puncak Kabupaten Bogor, Emen mengaku, saat pemberian insentif sebelum lebaran tidak kondisif.
"Kalau kemarin mah riweuh, pak," ucap Emen.
"Kan, ti bapak sekian, beja na mah keiklasan tapi dipatok," sambung Emen.
Dedi Mulyadi mengungkapkan, insentif untuk sopir angkot bukan bantuan darinya tapi Bank Jabar peduli dan Baznas.
Lebih lanjut Dedi Mulyadi mengatakan, total nilainya adalah Rp1 juta dalam bentuk uang dan Rp500 ribu paket makanan pokok.
"Emang yang terjadi seperti apa," tanya Dedi Mulyadi kepada Emen.
"Kalau saya pribadi pak, terima kasih banyak pak, seumur hidup saya jadi sopir angkot, baru kali ini dapat duit dari pemerintah," ucap Emen.
Emen menjelaskan, paket bantuan yang diterima membuat istrinya di rumah bahagia.
Menurut Emen, sebenarnya ada 900 sopir angkot namun yang mendapatkan insentif 500 orang sopir.
Dedi Mulyadi berjanji, akan mendata ulang dan bagi yang tidak kebagian akan berusaha dipenuhi.
"Saya sih, ingin rakyat saya ini tidak ada yang susah hidupnya," kata Dedi Mulyadi.
Selanjutnya, Dedi Mulyadi menanyakan kronologis pemotongan insentif.
"Yang terjadi gini pak, uangnya dari Rp1 juta bilangnya yang mungut itu keikhlasan, tapi keikhlasannya itu ditarget pak Rp200 ribu," ucap Emen.
Dedi Mulyadi kembali menanyakan siapa yang melakukan pemotongan dana tersebut.
"Itu pak, dari oknum Dishub sama oknum KKSU," jawab Emen.
Dedi Mulyadi menanyakan lebih detail siapa oknum dari Dishub yang melakukan pemotongan tersebut.
"Saha, kurang tahu pak, pokoknya mah oknum orang-orang Dishub aja, pak," jelas Emen.
Menurut Dedi Mulyadi, seharusnya dari Dishub diserahkan langsung ke sopir angkot.
Dedi Mulyadi bertanya kepada Emen, oknum yang melakukan pemotongan dari Dishub Provinsi Jawa Barat atau Kabupaten Bogor.
"Kabupaten Bogor," jawab Emen.
Emen menambahkan, KKSU pun yang melakukan pungutan bukan ketua tapi oknum di bawahnya.
Selanjutnya, Dedi Mulyadi menghitung jika Rp200 ribu dikali 500 adalah Rp100 juta.
"Iya pak, makanya anak-anak mempertanyakan itu, jadi buat apa uangnya, kan kalau kita tahu jelasnya ya ga apa-apa," kata Emen.
Dedi Mulyadi menanyakan kepada Emen, uang dari potongan tersebut akan dikemanakan.
"Ga tau pak, kita mah cuma dipinta Rp200 ribu gitu," ucap Emen.
Emen dan 20 orang temannya di komunitas sopir angkot menyerahkan uang Rp4 juta kepada oknum KKSU yang katanya untuk Dishub dan Organda.
"Berarti itu premanisme, pak," jawab Dedi Mulyadi.
"Itu preman yang berbaju seragam itu pak," sambung Dedi Mulyadi.
"Kalau kemudian saya proses, saya minta polisi nangkap orang-orang yang motonginnya, bapak bersedia jadi saksi?," tanya Dedi Mulyadi.
"Siap, jangan bawa saya aja pak," ucap Emen.
Dedi Mulyadi menegaskan, Emen tak usah takut sebab dirinya sebagai Gubernur Jawa Barat siap melakukan backup.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berjanji, segera memproses hukum kasus tersebut. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti