RADAR BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertekad membereskan masalah terkait pemotongan dana kompensasi supir angkot Puncak Bogor yang heboh di media sosial.
Ia kembali berbincang dengan Supir Angkot Puncak Bogor Emen, menanyakan kronologi dana kompensasi yang disunat.
Dedi menanyakan waktu dan tempat penerimaan uang.
"Anggotanya diberikan kapan? di mana pemberiannya?," tanya Gubernur Jawa Barat.
Emen menjelaskan, penyerahan dana kompensasi dilakukan pada hari Jumat di Kantor Samsat yang dulu, di Cibinong.
"Di Cibinong, di Kantor Samsat yang dulu," tambahnya.
Emen memastikan, saat pemberian disaksikan oleh Dishub Provinsi, Kabupaten, dan Organda.
"Kemudian berarti dishub provinsi, kabupaten, organda, menyaksikan pemberian uang?" tutur Dedi.
"Iya, menyaksikan," kata Emen.
Dedi juga menanyakan waktu pengumpulan pemotongan dana kompensasi.
"Kemudian, hari apa Pak Emen dan anggota diminta untuk mengumpulkan uang?" ucapnya.
Emen membeberkan, pengumpulan dilakukan di hari yang sama saat penyerahan uang.
"Hari itu juga Pak, setelah balik," ujarnya.
Saat Dedi menanyakan orang yang meminta untuk mengumpulkan uang. Emen menyebut nama Pak Nandar.
"Pak Nandar," tegas Emen.
"Pak Nandar siapa?" tanya Dedi Mulyadi.
"Pak Nandar tuh Ketua KKSU, bukan anggota dishub," jawab Emen.
Supir angkot Puncak Bogor tersebut memaparkan, KKSU merupakan Kelompok Kerja Sub Unit.
"Bukan Pak, KKSU mah Pak, Kelompok Kerja Sub Unit, itu mah di bawah organda," jelas Emen.
Dedi Mulyadi juga sempat menanyakan soal Dishub, namun Emen mengklaim Dishub tidak ikut andil dalam masalah pemotongan dana.
"Jadi pada saat pemberian uang itu, disaksikan oleh anggota Dishub Provinsi dan kabupaten. Tetapi harus dipastikan tidak ada anggota dishub provinsi dan kabupaten yang minta uang," sebut Dedi.
"Tidak ada Pak," timpal Emen.
Dedi mewanti-wanti Emen agar tidak berbohong soal oknum yang meminta uang.
"Sia ulah ngabohong (kamu jangan bohong). Udah ya. Sekali lagi dipastikan tidak ada anggota Dishub kabupaten dan provinsi yang minta uang ke Bapak," ungkapnya.
"Bener Pak, hanya menyaksikan pemberian uang," jawab Emen.
Emen menceritakan, setelah pembagian, pria yang disebut-sebut dengan Pak Nandar meminta tolong untuk menggumpulkan uang.
"Iya Pak, karena menurut dia anggota Emen engga pada ngasih, dipaksa ketuanya untuk minta uang karena dekat," tutur Emen.
Sebagai informasi, dana kompensasi supir angkot Puncak Bogor disunat, yang awalnya Rp1 juta menjadi Rp800 ribu. Alhasil, menjadi trending dan polemik di berbagai kalangan.
Kini, pihak Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah mengusut kejadian ini agar tidak terulang.
Editor : Siti Dewi Yanti