RADAR BOGOR - Ratusan driver pemandu wisata Puncak, Kabupaten Bogor, menggelar aksi turun ke jalan sebagai bentuk kekecewaan terhadap keberadaan perusahaan Indogate.
Driver pemandu wisata yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pramuwisata Bersatu (IKPB), khawatir akan kehilangan pekerjaannya.
Para driver pemandu wisata ini bisa kalah saing dengan perusahaan yang menyediakan jasa akomodasi transportasi tersebut.
Maman Lukman, perwakilan driver lokal mengatakan, ribuan driver pemandu wisata lokal di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, terancam kehilangan pekerjaan.
Dia menyebut, kehadiran perusahaan asal Timur Tengah yang bergerak di bidang penyewaan kendaraan, merugikan pekerja mereka sebagai warga lokal.
"Ribuan driver lokal akan masuk zona merah karena keberadaan perusahaan ini. Ini tentu sangat merugikan ekonomi lokal khususnya kami para driver," ujar Maman dalam aksi tersebut, Kamis (10/4/2025).
Menurutnya, para driver menolak keberadaan perusahaan ini di Indonesia terutama di kawasan wisata Puncak, Cipanas dan Bandung karena dianggap mengganggu ekosistem ekonomi masyarakat setempat.
Mereka pun meminta perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Kami warga pribumi dan pekerja lokal, memohon kepada Gubernur Jawa Barat dan Bupati Bogor untuk turun tangan membantu kami," pinta Maman.
Dalam aksi tersebut, mereka juga menyuarakan kekhawatiran tentang tarif murah dari perusahaan yang membuat pendapatan para driver lokal menurun.
Ratusan driver itu juga sempat meneriakkan nama Dedi Mulyadi dan berharap orang nomor satu di Jawa Barat itu dapat memperhatikan nasib mereka ke depan.
Sementara itu, Kepala Desa Tugu Selatan Cisarua, Eko Windiana menuturkan bahwa aksi para sopir wisata turis Timur Tengah itu atas dasar keberatan dengan tarif pendapatan di bawah rata-rata dengan yang diterapkan perusahaan tersebut.
"Kami pihak desa menyarankan agar para driver tidak melakukan tindakan melanggar hukum. Sedangkan terkait solusinya bisa dibicarakan baik-baik dengan pihak terkait," imbaunya.
Lanjut Eko, pihaknya akan menanyakan terkait keabsahan perusahaan dalam berusaha pariwisata maupun regulasi yang berlaku.
Pasalnya berdasarkan informasi, perusahaan tersebut merupakan milik pengusaha asal negara Timur Tengah, yakni dari Yaman.(cok)
Editor : Alpin.