RADAR BOGOR - Sejumlah pelajar harus menyebrangi aliran sungai untuk berangkat sekolah. Fenomena itu terjadi di Desa Cipetir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Rabu (16/4/2025).
Aliran sungai yang menjadi akses pelajar untuk berangkat ke sekolah itu membentang diantara dua kecamatan, yakni Dramaga dan Ciampea.
Saat menyebrang, para pelajar di Dramaga itu harus mengangkat androk dan celananya agar tidak kecipratan air sungai.
Setiap hari para pelajar tersebut mesti membawa dua alas kaki. Sendal digunakan untuk berangkat ke sekolah dan sepatu yang disimpan di dalam tas, bersamaan dengan alat tulis lainnya.
Sebenarnya ada akses lain yang bisa dilalui oleh para pelajar itu. Namun jaraknya lebih jauh. Sehingga mau tidak mau jalur terjal tersebut menjadi pilihan. Sekira 15 menit estimasi waktu dari rumah ke sekolah.
“Kalau lewat jalur yang satu, yaitu Gang Abot kurang lebih 30 menit untuk sampai ke sekolah,” beber Apriani siswa kelas 7 SMP Adi Bangsa.
Jalur Gang Abot dipilih Apriani hanya sesekali. Saat aliran air sungai sedang deras lebih tepatnya. Itupun dia harus berangkat lebih awal dari biasanya.
Uluran tangan dari para pemangku kebijakan menjadi harapan terbesarnya saat ini. Siapa saja, kata Apriani. Dengan catatan ikhlas untuk membangun jembatan di atas alirann sungai.
“Kalau ada jembatan kan jadi enak, saya bersama dengan teman-teman yang lain tidak lagi harus nyebrang untuk berangkat ke sekolah,” terang Apriani pada Radar Bogor.
Sementara itu Babeh (45) warga setempat mengaku sebelumnya sudah ada jembatan yang dibangun. Namun bahan bakunya hanya dari kayu. Itupun sudah rusak, diterjang aliran sungai.
Kerusakan jembatan yang menjadi harapan itu terjadi sekira 5 tahun lalu. Hingga saat ini, belum ada lagi akses penyebrang yang dibangun.
Selagi ada waktu Babeh menyebut dia pun kerap membantu para pelajar yang hendak sekolah.
Apalagi kalau aliran air mulai deras, punggungnya mungkin boleh disebut menjadi akses penghubung para pelajar.
Harapanya sama. Babeh pun meminta adanya kepedulian untuk membangun akses penyebrang.
Sebab bukan cuma pelajar, para warga di Dramaga pun turut melewati aliran sungai untuk berkatifitas.
“Apalagi bisa dilewati kendaraan kan jadi lebih mudah. Kami sudah berencana ingin membangun jembatan lagi, cuma dari kayu saja, kalau dari beton duit dari mana,” pungkasnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin