RADAR BOGOR - Warga mengungkapkan banjir akibat pembangunan perumahaan, bukan pertama kali saja, namun sudah keempat kali hingga ambruknya tembok SDN Cipayung 01, Kelurahan Tengah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.
Berdasarkan informasi, banjir yang mengakibatkan tembok SDN Cipayung 01 Cibinong, jebol itu pertama terjadi pada 9 Maret 2025.
Yang kedua pada 11 April, lalu 16 April kantin sekolah kebanjiran, 28 April kembali banjir dan 02 Mei tembok SDN Cipayung 01 ambruk dan sekolah kebanjiran.
Penjaga kantin SDN Cipayung 01, Sri (62) mengatakan, mulanya lahan itu diratakan oleh pihak pengembang sejak awal bulan Ramadhan atau Maret 2025.
Padahal, kata dia, sebelum dilakukan pemerataan lahan, tempat itu menjadi aktifitas masyarakat bertani dan banyak pohon-pohon berukuran sedang untuk menyerap air.
"Tadinya dibelakang ini ada pohon besar, sebelum ada jebol-jebol itu tapi di tebang sama mereka gara-gara pohon ditebang ini jadi jebol, pohon rindang ada 3 pohon," ucap Sri.
Bahkan, kata dia, sebelum dilakukan pemerataan lahan tidak pernah terjadi bencana alam banjir hingga tembok ambruk.
Namun ketika lahan diratakan area sekolah mengalami kebanjiran hingga terkena lapak tempat ia berjualan.
"Pohonnya kecil kecil, semak-semak doang tapi kenapa setelah diratakan malah jadi banjir," ujarnya kepada Radar Bogor, Senin (05/05/2025).
Kata Sri ambruknya tembok itu, bukan kali ini saja melainkan sudah sejak beberapa waktu lalu bahkan mencatat setiap kejadian.
Karena, ketika terkena dampak dari banjir, Sri dan penjaga kantin lainnya melakukan kerja bakti untuk membersihkan genangan air yang masuk ke kantin.
"Ada datanya, soalnya tiap jebol kita kesini, kerja bakti bersih-bersih itu terakhir malah ibu ini (air) sampe ngalir dari warungnya," jelas dia.
"Lumpur sampai masuk, karena mereka kalau ga salah bikin kobakan dibelakang, jadi penampungan air itu dibelakang ini (kantin), sementara tanah mereka lebih tinggi," sambung dia.
Kemudian, salah satu warga yakni Rohmah (53) mengatakan, pada Jumat (2/5/2025) menjelang malam dirinya takut melihat situasi banjir.
Saat itu, kata dia, dirinya sedang berjualan, melihat keadaan rumah sekitar sudah terendam akibat banjir yang diperkirakan setinggi mata kaki.
"Iya parah banget, sampai kaya Habel aja beterbangan saya mungutin hebel ditengah jalan, pada kebawa air," kata Rohmah.
"Dari belakang, dari proyek itu, masuk kedalam sini di jalan sini udah kaya kali, saya juga kena, kamar, dapur pada kena semua," sambung dia.
Terlebih, saat kejadian banjir berlangsung mendengar teriakan warga seusai adzan maghrib berkumandang.
"Pada teriak-teriak pas Maghrib abis adzan. Iya sempat ada terikan pas kejadian," tutur dia.
Kejadian itu, Dia berharap, Pemkab Bogor bisa menangani agar banjir tidak kembali terulang.
Karena, kata dia, warga sampai menangis akibat terdampak banjir dari aktifitas pengembang perumahan.
"Jangan ada banjir bandang begitu lagi, kasian lah warga sini apalagi orang tua kasian sampe nangis-nangis kerendem rumahnya. Jangan terulang lagi biar cepet bikin saluran air, itu yang pertama saluran air," jelas Rohmah.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Cipayung 01, Endin Saepudin mengungkapkan, banjir tersebut mengakibatkan sarana fasilitas sekolah terdampak kerusakan.
"Pagar tembok SDN Cipayung 01 bagian belakang, WC sekolah 10 lokal, gerbang besi depan dan belakang, mesin air jet pump, paving block, kursi dan meja 8 set, 3 unit pemadam kebakaran, dan lapangan upacara," tutupnya.(rp2)