Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Petani Kopi Cikoneng Belum Sejahtera Meski Banyak Permintaan, Distanhorbun Kabupaten Bogor: Masih Pakai Metode Konvensional

Septi Nulawam Harahap • Kamis, 8 Mei 2025 | 19:57 WIB
Permintaan Kopi Cikoneng khas Puncak, Desa Tugu Utara, Cisarua Kabupaten Bogor terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir
Permintaan Kopi Cikoneng khas Puncak, Desa Tugu Utara, Cisarua Kabupaten Bogor terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir

RADAR BOGOR - Permintaan Kopi Cikoneng terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan biji kopi khas Puncak, Desa Tugu Utara, Cisarua itu kini banyak digandrungi pengusaha-pengusaha kafe yang menyajikan minuman kopi.

Meski demikian, hal itu belum berdampak signifikan bagi para kesejahteraan para petani kopi di kawasan tersebut.

Iim, salah satu petani kopi Cikoneng mengaku penghasilan yang ia dapat dari bertani kopi hanya cukup memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga bertani kopi hanya menjadi pekerjaan sampingan setelah ia bekerja sebagai buruh perkebunan teh PT Sumber Saru Bumi Pakuan (SSBP).

"Penghasilan saya dari kopi dalam satu tahun paling sekitar Rp6 juta bahkan terkadang kurang," ungkapnya, Kamis (8/5/2025).

Menurutnya, untuk satu kilogram kopi dari hasil panen dijual seharga Rp14 ribu. Dari hasil itu, dipotong dari sistem profit sharing sebesar Rp3 ribu untuk Perhutani sebagai pemilik lahan.

Dalam satu kali panen, Iim mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram kopi dalam bentuk buah dan selama setahun panen bisa dilakukan hingga enam kali.

"Bisa lebih dari enam kali panen, bisa juga kurang. Tapi kalau dirata-rata, penghasilan saya sekitar Rp6 juta per tahun," jelasnya.

Terpisah, Penyuluh Pertanian Ahli Muda dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Reza Septian menyatakan bahwa metode konvensional yang diterapkan para petani membuat perkembangan pertanian kopi cukup lambat.

Pihaknya juga tidak menyalahkan hal tersebut lantaran sudah menjadi tradisi bagi para petani lokal.

"Kami memang mengalami kendala dalam menyebarluaskan teknologi pertanian, karena masih kuatnya budaya dan kebiasaan lama para petani," beber Reza.

Sehingga, kata dia, perlu waktu untuk mengubah kebiasaan petani dari metode manual menuju pendekatan teknologi seperti pemupukan, pemangkasan, dan pembuatan rorak atau lubang tanah.

"Sekarang mereka mulai mau menerapkan teknologi dan mengikuti perubahan perilaku, ini sejalan dengan peningkatan produktivitas. Tantangannya luar biasa, tapi dalam setahun terakhir ini sudah lumayan terlihat hasilnya," tandas Reza.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
#petani kopi #Cikoneng #kabupaten bogor