RADAR BOGOR - Menteri Kebudayaan Fadli Zon, yakin Indonesia punya semua modal untuk jadi pusat peradaban dunia.
Keyakinan itu disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat berkunjung ke Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin 30 Juni 2025.
Di hadapan para peneliti, Fadli Zon menekankan pentingnya kolaborasi antara riset ilmiah dengan pelestarian budaya.
Menurut Fadli Zon, pelindungan warisan budaya tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral.
“Saya kira ini sangat erat, antara penelitian dan pewarisan budaya. Kita harus kolaboratif,” kata Fadli.
Ia menyebut, Indonesia sejak lama dikenal sebagai wilayah yang sangat kaya akan warisan budaya, baik yang bersifat bendawi maupun nonbendawi.
Namun, kekayaan itu belum semuanya digali dan dimanfaatkan secara maksimal untuk edukasi maupun pembangunan kebudayaan nasional.
“Kita punya sejarah sangat panjang, bahkan bisa ditarik dari puluhan sampai ratusan juta tahun lalu,” ujarnya.
Fadli menyebut sejumlah riset terhadap situs prasejarah sudah cukup banyak dilakukan.
Meski begitu, ia menilai pendekatannya perlu diperluas dan dipertegas dalam kerangka membangun narasi besar tentang Indonesia sebagai negeri tua dalam sejarah dunia.
“Kita pernah jadi pusat temuan manusia purba, dan hampir 60 persen penemuannya ada di Indonesia,” ucapnya.
Ia mencontohkan pameran 130 tahun penemuan Pithecanthropus yang rencananya akan dijadikan pameran permanen di Museum Nasional.
Menurutnya, narasi besar peradaban itu penting agar masyarakat bisa melihat posisi sejarah bangsa secara utuh.
“Saya kira ini bagian dari peradaban tertua dunia. Kita harus mulai percaya diri,” ujarnya lagi.
Tak hanya di dalam negeri, Fadli juga menyebut pemerintah sedang berupaya memulangkan puluhan ribu fosil yang selama ini berada di luar negeri.
Salah satunya dari Belanda, yang telah menyatakan siap mengembalikan koleksi fosil milik Indonesia.
“Saya sudah bertemu langsung Menteri Kebudayaan Belanda, dan mereka bilang silakan,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki pemulangan sejumlah artefak penting dari negara lain.
Langkah itu dilakukan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemilik sah warisan peradaban global.
Sementara itu, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyebut koleksi arkeologi yang tersimpan di lembaganya saat ini mencapai 6 juta item.
Jumlah itu belum termasuk koleksi manuskrip, bahasa lokal, hingga koleksi biodiversitas dan mikroba.
“Total koleksi ilmiah kami ada sekitar 15 juta item. Untuk arkeologi sendiri 6 juta,” ujar Laksana.
Menurutnya, koleksi itu tidak sekadar disimpan, tapi juga dimanfaatkan untuk karakterisasi, identifikasi, hingga edukasi publik.
BRIN juga tengah memperkuat pendekatan interdisipliner agar koleksi bisa diolah menjadi sumber pengetahuan baru.(rp1)