RADAR BOGOR - Dalam rangka membantu pemerintah dalam program ketahanan pangan, seorang anggota Brimob bernama Sariyanto menggeluti budidaya ikan nila air deras.
Ia memanfaatkan lahan yang ada di Jl. H. Jelan, Cibitung Tengah, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, untuk memelihara ikan nila, menunjukkan bahwa budidaya ikan ini bisa dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk anggota kepolisian.
Awalnya, ia membudidaya ikan koi yang langsung didatangkan dari Jepang pada 2019 lalu ketika Covid-19 melanda. Kemudian Sariyanto bergabung ke komunitas paguyuban pembudidaya ikan nila.
"Di komunitas itu saya belajar dengan para ahlinya, sampai saya terjun di budidaya ikan nila merah untuk konsumsi," tutur Sariyanto.
Menurutnya tantangan kusus dalam budidaya ikan nila ini pertama adalah modal, terutama untuk pakan. "Iya modalnya cukup lumayan, harga pakan selalu naik," ujarnya.
Ia kemudian menciptakan pakan sendiri yakni Azolla Volopia dan Lemna yang jadi pakan alternatif. Hasil panen ikan nila kemudian dijual ke restoran, supermarket dan tengkulak sekitaran Tenjolaya Bogor.
Budidaya ikan nila merah di kolam air deras merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pemeliharaan.
Sistem ini memanfaatkan aliran air yang deras dan terus-menerus, sehingga menciptakan lingkungan yang kaya oksigen dan meminimalkan penumpukan kotoran di dasar kolam.
Ikan nila merah dikenal sebagai jenis yang tahan terhadap penyakit, cepat tumbuh, serta memiliki permintaan pasar yang tinggi karena dagingnya yang gurih dan tampilannya yang menarik.
Dalam sistem air deras, benih nila merah yang berkualitas ditebar pada padat tebar yang cukup tinggi, biasanya antara 50 hingga 100 ekor per meter kubik tergantung ukuran benih dan kapasitas kolam.
Sirkulasi air yang stabil menjadikan ikan lebih aktif dan metabolisme meningkat, sehingga proses pertumbuhan bisa berlangsung lebih cepat dibandingkan metode konvensional.
Pemberian pakan dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan bobot ikan serta tingkat aktivitasnya. Biasanya pakan diberikan 3–4 kali sehari dengan pakan apung yang memiliki kandungan protein antara 28%–32%.
Manajemen kualitas air menjadi kunci utama dalam budidaya sistem ini. Parameter seperti suhu, pH, dan kadar oksigen harus dipantau secara berkala.
Air limbah dari kolam dialirkan ke saluran pembuangan atau ditampung untuk digunakan kembali setelah proses filtrasi.
Panen ikan nila merah bisa dilakukan setelah 3 hingga 4 bulan pemeliharaan, dengan berat ideal konsumsi berkisar antara 300 hingga 500 gram per ekor.
Dalam kondisi optimal, hasil panen bisa mencapai 80 % hingga 90 % dari total benih yang ditebar.
Dengan pendekatan yang tepat, budidaya ikan nila merah di kolam air deras tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi yang menjanjikan, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan dan pembangunan perikanan berkelanjutan. (***)