RADAR BOGOR - Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Gandrung Universitas Muhammadiyah Bogor Raya menggelar pementasan tunggal 2025 dengan adaptasi naskah Tibuat karya Teater Gandrung dan Naskah Belentung karya Ocky Sandi Lemon.
Pertunjungan Teater Gandrung itu dibuka oleh Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Bogor Raya Dr. H. Naufal Ramadian, M.Si. di Gedung Dakwah Muhammadiyah Leuwiliang pada Sabtu, 9 Agustus 2025.
Pementasan Tibuat: Belentung merupakan salah satu rangkaian kegiatan Teater Gandrung. Naskah ini menceritakan tentang sebuah tragedi sangat kelam.
Bermula dari angin masih berhembus di sebuah desa, tapi tak lagi membawa harum padi yang menguning, yang tersisa hanyalah debu dari tanah yang digali dibelah lalu di aspal.
Di tempat yang dulunya sawah membentang sejauh mata memandang, kini berdiri bangunan menjulang dingin dan asing.
Para petani dengan hati yang retak bukan karena hujan dan waktu tapi karena tidak ada tempat untuk berharap.
Katak – katak masih bersuara bukan untuk memanggil hujan, mereka seperti menyanyi dalam tangis meratapi tempat tinggal yang telah ditimbun.
Alam kehilangan irama, kehilangan nadanya. Anak – anak yang berlari tanpa alas kaki menyusuri pematang kini sibuk dengan layar – layar kecil ditangan mereka.
Tidak ada yang salah tidak ada yang benar, maka tentukanlah. Mereka tak mengenal lumpur, mereka tak tahu cara melempar batu ke sungai.
Tak ada yang bisa melawan waktu apalagi melawan takdir maka tentukanlah. Dan di tengah semuanya hanya satu yang tersisa ratapan sunyi dari tanah yang kehilangan pemilik sejatinya.
Mengambil esensi dari Belentung (Katak) gerak tubuh ini bukan cerita belaka, bukan cerita rekayasa melainkan peristiwa yang terjadi di depan mata kini, esok, dan nanti maka tentukanlah.
Para penonton berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, umum, dan masyarakat sekitar. Penyelenggara Pementasan tunggal ini sebagai bukti eksistensi kepada masyarakat dalam kontribusi sosial.
"Kenapa saya menggabungkan dua naskah menjadi satu pementasan, karena dari kedua naskah itu memiliki makna yang hampir sama, dimana niat kita mementaskan naskah itu untuk menyampaikan pesan kepada para penonton bahwa sekarang negara kita sedang tidak baik-baik saja," kata Ketua Umum Teater Gandrung Dzhuliannarta.
"Atau lebih jelasnya mengajak penonton untuk sadar bahwa negara kita sedang tidak baik mangkanya didalam pementasan itu banyak dialog dialog yang satir untuk mengkritik pemerintah," tambahnya. (***)
Editor : Yosep Awaludin