RADAR BOGOR - Berkolaborasi dengan IZW-Berlin Group, tim medis Taman Safari Indonesia tengah melakukan prosedur inseminasi buatan pada panda raksasa Cai Tao dan Hu Chun di TSI Cisarua Bogor.
Pencapaian bersejarah dalam dunia konservasi satwa adalah upaya besar ini untuk mewujudkan kelahiran bayi panda pertama di Indonesia.
Salah satu masalah terbesar dalam konservasi panda raksasa telah lama dikenal. Masa subur panda betina hanya terjadi sekali setahun, dan itu hanya berlangsung selama dua hingga tiga hari.
Sangat penting karena umur sel telur dan kesuburan hanya beberapa jam. Panda adalah monoestrous untuk musim kawin dan hanya subur satu tahun sekali. Mereka juga tidak sering menikah secara alami.
Akibatnya, inseminasi buatan adalah metode ilmiah yang bertujuan untuk meningkatkan kemungkinan keberhasilan reproduksi.
"Kami tidak menggantikan alam, tetapi membantu alam agar peluang keberhasilan lebih tinggi," kata Dr. Bongot Huaso Mulia, M.Si, Wakil Presiden Life Science Taman Safari Indonesia.
Sebuah program inseminasi buatan panda yang memenuhi standar internasional telah dimulai di Taman Safari Indonesia sejak 2022.
Dalam proses ini, ada pengambilan sampel, pemantauan hormon secara real-time, dan tindakan medis yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari dokter hewan spesialis, ahli anestesi, teknisi reproduksi, dan penjaga yang tahu bagaimana panda berperilaku.
Meskipun embrio tidak berkembang sepenuhnya, program ini sempat mencatat capaian besar pada 2024 ketika terkonfirmasi pembuahan di hari ke-40 setelah inseminasi.
Sekarang, pengalaman ini meletakkan dasar yang kuat untuk memulai prosedur inseminasi pada tahun 2025.
Data terbaru dari National Giant Panda Conservation and Research Center menunjukkan bahwa populasi panda raksasa di alam liar hanya sekitar 1.860, bersama dengan lebih dari 700 panda di penangkaran di seluruh dunia.
Satu-satunya panda raksasa di Indonesia adalah Cai Tao dan Hu Chun, yang datang pada 2017 sebagai simbol persahabatan Indonesia-Tiongkok, dan hanya dapat ditemukan di Istana Panda Taman Safari Bogor.
Menurut IUCN saat ini, Status panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) adalah rentan (vulnerable), dan upaya inseminasi ini merupakan upaya medis yang penting untuk memastikan keberlangsungan spesies ini.
Jika ini berhasil, Indonesia akan menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil membiakkan panda melalui inseminasi buatan.
Mereka akan bergabung dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand, yang telah melakukan hal yang sama sebelumnya.
Kesuksesan ini mewakili kebanggaan nasional serta kontribusi untuk menjaga kelestarian satwa di seluruh dunia, menunjukkan persahabatan dan konservasi di seluruh dunia.
"Harapan kami sederhana tetapi besar. Hu Chun dan Cai Tao memiliki keturunan di Taman Safari Indonesia. Ini adalah warisan dunia yang harus kita jaga bersama," tutur Dr. Bongot.
Program konservasi panda raksasa di Taman Safari Bogor adalah hasil kerja sama resmi antara pemerintah Indonesia dan Tiongkok.
Sejak 2017, kehadiran Cai Tao dan Hu Chun telah menjadi simbol diplomasi antara dua negara dan komitmen mereka untuk melestarikan salah satu spesies paling ikonik di dunia.
Taman Safari Indonesia semakin menegaskan perannya sebagai pusat konservasi terkemuka dengan melakukan tindakan berani ini, membantu masa depan satwa liar. (***)
Editor : Yosep Awaludin