RADAR BOGOR - Lembaga Studi Visi Nusantara Maju (LS Vinus) mengungkap wacana menuju reformasi jilid II dengan melihat kondisi pemerintah saat ini.
Founder LS Vinus, Yusfitriadi mengatakan, kondisi masyarakat saat ini sangat susah dalam mencari pekerjaan.
Karena, kata dia, keterlibatan aparatur negara seperti polisi dan TNI yang telah mengambil peran masyarakat.
"Ketahanan pangan diambil negara, MBG diambil polisi dan tentara, bahkan kemarin ada wacana untuk membuat obat kimia farma tentara. Semua diambil, masyarakat apa kerjaannya kalo begitu," kata Yus kepada Radar Bogor, Kamis 4 September 2025.
Dengan begitu, kata Yus, inilah sebuah fenomena yang mendorong ke reformasi jilid II, karena TNI sudah tidak lagi dwi fungsi namun multi fungsi.
Baca Juga: SPKS Kolaborasi Bareng IPB Univeristy, Kembangkan Produk Turunan dari Kelapa Sawit
"Nah artinya inilah yang kemudian ada sebuah fenomena yang mendorong kepada reformasi jilid II karna TNI sudah tidak lagi dwi fungsi tapi multi fungsi," jelas dia.
Kemudian, kata dia, melihat aparat kepolisian yang saat ini melakukan tindakan represif dalam merespon berbagai macam gerakan-gerakan masyarakat sipil.
"Banyak sekali fenomena-fenomena kejadian-kejadian yang kawan-kawan media pasti lebih tau bagaimana kemudian fenomena polisi yang tidak, apa etikanya kurang, represif nya luar biasa, ada juga yang oknum-oknum bermain-main, dan itu tumbuh ditengah-tengah masyarakat," terang dia.
Yusfitriadi melanjutkan, mungkin inilah yang kemudian banyak yang memunculkan wacana reformasi jilid II.
Lebih jauh dia menjelaskan, masyarakat sudah mengalami dua perubahan yang cukup ekstrem. Pertama, rezim orde lama ke orde baru.
Baca Juga: Akibat Konsleting Listrik, Kandang Ayam Milik Warga Kukupu Bogor Ludes Terbakar
"Saya pikir itu juga perubahan tatanan negara cukup ekstrem. Apa kemudian negara lebih baik? kita sama sama tahu bagaimana rezim Soeharto mengelola negara," imbuh dia.
Sehingga rezim Soeharto memunculkan membentuk perubahan ekstrem ke dua yaitu reformasi yang melahirkan rezim reformasi.
"Di zaman reformasi ini apakah negara baik baik saja? ya engga juga, terus perubahan apalagi yang kemudian dibutuhkan masyarakat," imbuh dia.
Untuk itu, kata dia, ada dua hal yang penting dari perubahan rezim, yakni penggantian struktur, penguatan mentalitas dan mengganti sumber daya manusia.
"Ya kalo pergantian rezim orde lama ke orde baru ga ganti struktur cuman ganti presiden cuman ganti menteri, tata kelolanya sama saja," cetus dia.
Dengan kondisi saat ini, kata dia, maka wajar hari ini banyak yang menyebutkan hidup diera new rezim orde baru 4.0 atau orde baru gaya baru.
"Karna memang ya mirip-mirip hari ini, multi fungsi ABRI, kemudian represif kepolisian, prilaku korupsi hampir di semua lini, bahkan yang lebih menyakitkan kita itu Haji di korupsi, pendidikan," pungkasnya.(rp2)