RADAR BOGOR – Di tengah gemuruh gendang pencak yang kerap mengiringi silat Cimande, ada satu suara lain yang khas yaitu tiupan terompet.
Nada nyaringnya seolah menyatukan semangat, syiar, sekaligus identitas budaya.
Di balik tiupan itu berdirilah satu sosok yang konsisten menjaganya bernama Abah Udin, maestro terompet asal Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Perjalanan Abah Udin dengan dunia seni dimulai sejak kecil. Sejak duduk di bangku SD ia sudah akrab dengan gendang pencak.
Namun baru pada awal 1990-an, ia mulai mendalami terompet.
“Waktu itu anak saya sudah bisa main gendang, jadi saya belajar terompet" ujarnya kepada Radar Bogor, Minggu 7 September 2025.
Terompet pertamanya ia beli seharga Rp 150 ribu, angka yang besar di masa itu. Namun dari situlah langkahnya dimulai.
Bagi Abah Udin, terompet bukan sekadar alat musik, melainkan jalan hidup yang melekat erat dengan budaya Cimande.
“Mula mula buat belajar itu abah beli, dari harga 150 ribu, waktu itu 150 ribu itu sampai jual kambing,” sambungnya.
Cimande memang dikenal luas sebagai pusat pencak silat, tapi tak ada satupun yang menekuni terompet sebelum dirinya.
“Dari dulu di Cimande nggak ada bisa memainkan terompet. Satu satunya yang belajar main terompe itu adalah Abah,” tegasnya.
Abah Udin hafal betul ukuran terompet dan fungsinya. Ada ukuran 24, 26, hingga 28, yang masing-masing digunakan untuk keperluan berbeda mulai dari iringan pencak hingga sinden.
Keistimewaan terompet Sunda, menurutnya, ada pada fleksibilitas nada.
“Kalau suling terbatas lagunya. Tapi terompet Sunda bisa semua, lagu Jepang bisa, India bisa, dangdut juga bisa,” jelasnya.
Bagi Abah Udin, tiupan terompet juga memiliki makna filosofis.
Dia mengaitkannya dengan ajaran Islam, khususnya sangkakala yang ditiup di hari akhir.
“Kalau di Islam itu ada sangkakala. Dan sangkakala itu kan Allah yang menciptakan. Terompet ini jadi syiar juga,” katanya.
Namun kepiawaiannya hari ini lahir dari proses panjang. Saat awal belajar membuat terompet, ia berkali-kali gagal.
“Bikin satu gagal, dua gagal, tiga gagal. Saya pernah hampir putus asa. Kalau sekarang enggak ada Abah buat terompet itu gagal,” tuturnya.
Kunci keberhasilan ada pada pemilihan kayu. Jati, mahoni, hingga handelem, masing-masing memberi karakter suara berbeda.
“ Kalo ini jati oh keren, oh ini mahoni itu laen, oh ini hamdeuleum itu keren, empuk suaranya" ungkapnya.
Produksi terompet Abah Udin kini sudah tak terhitung. Bahkan karyanya pernah menarik perhatian tamu dari Prancis.
“Dia bilang sudah keliling Bandung, Garut, sama saja. Tapi pas lihat punya saya beda. Gambarnya ada dewa, ada ular. Dia sampai beli empat, sekarang ada lagi tantangan kepengen dibikinin lagi buat di Prancis” ujarnya.
Meski begitu, Abah Udin tak ingin ilmunya berhenti di dirinya. Ia sudah menurunkan kemampuan itu kepada siapapun yang mau belajar.
“Sekarang banyak yang datang 'bah mau belajar' nah disitu Abah ajarin ssmua” tuturnya.
Bagi Abah Udin, menjaga seni terompet sama artinya dengan menjaga napas Cimande.
Dia menyadari bahwa warisan leluhur bukan hanya silat, tapi juga seni musik yang menyertainya.
“Kalau penca dan gendang itu dari abad 17, sekarang saya di seni terompetnya. Mudah-mudahan ada terus generasi penerusnya,” harapnya.
Kini, setiap nada yang keluar dari terompet Abah Udin bukan hanya alunan musik.
Itu adalah doa, syiar, sekaligus simbol perjuangan menjaga warisan budaya.
Dari Cimande, ia meniupkan pesan, tradisi tidak boleh berhenti di satu generasi, tapi harus terus hidup di setiap zaman. (Cr1)