RADAR BOGOR – Tangis Rohman Nurhakim tak terbendung ketika mengenang kakaknya, Nurhayati, salah satu korban meninggal dunia akibat runtuhnya bangunan Majelis Taklim Asobiyah di Kampung Ciapus Kompas, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Minggu, 7 September 2025.
Ia tampak tegar menerima tamu yang datang, tetapi matanya berkaca-kaca setiap kali menyebut nama sang kakak.
“Almarhumah orang baik, sering ikut pengajian atau maulidan ke sana ke mari, sering datang,” ucap Rohman lirih, mengenang kakaknya yang selalu aktif dalam kegiatan keagamaan.
Bagi Rohman, Nurhayati merupakan sosok perempuan sederhana yang selalu menghadirkan ketenangan dalam keluarga.
Ia teringat bagaimana Nurhayati sering mengajaknya pergi ke majelis taklim dan baginya, pengajian bukan sekadar ritual, melainkan wadah mempererat silaturahmi.
“Kalau ada maulidan atau pengajian, kakak itu pasti hadir. Sudah kebiasaannya sejak dulu,” kata Rohman.
Namun, kebiasaan itu kini terhenti, Rohman menatap kosong ketika menyadari bahwa kehadiran kakaknya dalam setiap pengajian mungkin sudah berakhir.
“Mungkin terakhir sekarang, kan waktu kecelakaan waktu maulidan,” ujarnya dengan suara yang patah.
Bagi Rohman, Nurhayati bukan hanya kakak, tetapi juga sahabat tempat ia berbagi cerita, menjadi sosok yang selalu mendukung, menyemangati, dan menenangkannya dalam keadaan apa pun.
“Kakak itu orangnya sabar, tidak pernah marah-marah, selalu menenangkan kalau ada masalah,” kenangnya.
Di mata Rohman, Nurhayati juga dikenal sebagai pribadi yang selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga dan sering membantu orang sekitar, tanpa berharap balasan.
“Selama masa hidupnya ketetangga baik,” ucap Rohman.
Rohman masih teringat obrolan terakhir dengan kakaknya sebelum berangkat ke Majelis Taklim Asobiyah, dan tak ada firasat buruk yang ia rasakan.
“Kakak cuma bilang mau ikut maulidan, seperti biasa, tidak ada tanda apa-apa,” katanya pelan.
Kini, yang tersisa hanya kenangan, Rohman hanya bisa mendoakan kakaknya agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Kami ikhlas, semoga kakak husnul khatimah,” ujarnya.
Meski berat, Rohman berusaha menerima takdir yang menimpa keluarganya dan baginya, kepergian Nurhayati dalam kegiatan keagamaan adalah sebuah kehormatan.
“kakak pergi dalam keadaan baik, diacara maulidan,” ucapnya.
Duka itu akan tetap melekat dalam hati Rohman tetapi ia akan menjaga nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kakaknya. Baginya, Nurhayati akan selalu hidup dalam setiap doa dan kenangan. (Cr1)