RADAR BOGOR - Bangunan retak, atap rapuh, hingga lantai yang beralaskan tanah dan bebatuan itulah pemandangan sehari-hari di SDN Tegal Benteng, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor.
Namun, di balik kondisi memprihatinkan SDN Tegal Benteng itu, ada doa yang tak pernah putus dari para orang tua murid.
Mereka berharap anak-anaknya bisa belajar di SDN Tegal Benteng bisa selamat.
Sakam, ayah dari Maman Sukma Diningrat, murid kelas 3, menjadi salah satu dari banyak orang tua yang hatinya selalu cemas.
Dia mengaku tak pernah benar-benar tenang setiap kali anaknya masuk sekolah.
“Sebagai orang tua murid saya sangat prihatin, karena kondisi bangunan sudah tidak memadai. Saya khawatir menyangkut keselamatan murid, khususnya anak saya. Takut ada hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap Sakam dengan nada berat kepada Radar Bogor, Selasa 9 September 2025.
Bagi Sakam, ketika anaknya berangkat sekolah ke SD Negeri Tegal Benteng selalu mengalir doa.
Ia tak pernah tenang sebelum Maman pulang dengan selamat. Bukan karena takut anaknya nakal atau malas belajar, tetapi karena cemas ada genteng jatuh, plafon roboh, atau dinding retak yang tiba-tiba ambruk.
“Harapannya enggak muluk-muluk, pengennya secepatnya aja dibangun. Karena kondisinya sangat memprihatinkan sekali. Kalau ada genteng jatuh atau plafon jatuh dan sampai kena murid, kasihan,” ujarnya.
Sakam sadar, ada pilihan lain. Di dekat rumahnya bahkan ada madrasah yang lebih terawat. Namun ia tetap memilih SD Negeri Tegal Benteng, sekolah yang sudah lama menjadi bagian dari lingkungannya.
“Ada juga sekolah yang dekat, madrasah di depan. Tapi istilahnya kita dekat lingkungan sekolah, pasti di SD Negeri Tegal Benteng,” katanya pelan.
Sebagai orang tua, Sakam tidak pernah berhenti berharap. Ia tahu, guru-guru selalu waspada menjaga anak-anak.
Dia juga percaya Maman dan teman-temannya sudah mengerti bagaimana harus berhati-hati di ruang kelas yang rusak.
“Alhamdulillah memang itu yang diharapkan baik-baik saja. Karena insyaallah tidak akan terjadi hal yang tidak diinginkan, dikarenakan selalu waspada para guru. Alhamdulillah muridnya pun ngerti dengan keadaan kondisi seperti ini,” ucapnya penuh syukur.
Namun, syukur itu tak pernah cukup untuk menutupi keresahan.
Ia tahu, retakan di dinding bukan sekadar garis di tembok, melainkan ancaman nyata, bayangan buruk selalu menghantui pikirannya.
“Kalau bangunannya ambruk, kena murid murid, Itu yang paling saya takutkan,” katanya.
Di balik keresahan itu, Sakam masih menyimpan doa yang sama setiap hari, agar anaknya bisa menimba ilmu dengan selamat, hingga kelak bisa meraih cita-cita tanpa lagi dihantui retakan dinding dan atap yang nyaris roboh.(cr1)