RADAR BOGOR - Wacana pembangunan Suspended String Light Rail Transport (SSLRT) atau kereta gantung di kawasan Puncak mendapat respon positif dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bogor.
Meski demikian, wacana tersebut dinilai bukan menjadi solusi atas kemacetan yang sering terjadi di kawasan Puncak.
"Karena kalau bicara kemacetan, terjadi mulai dari Simpang Gadog hingga Taman safari, kemudian di Gunung Mas.
Jadi kalau untuk menaikan kunjungan wisatawan kami setuju, tapi kalau untuk mengurangi kemacetan tidak akan berdampak," ujar Sekretaris PHRI Kabuaten Bogor, Boboy Ruswanto, Kamis 11 September 2025.
Ia melihat, rencana pembangunan SSLRT atau kereta gantung tersebut sangat menarik dan perlu direalisasikan untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bogor khususnya di Puncak.
Namun ia menegaskan, hal itu tidak akan menjawab masalah klasik berupa kemacetan musabab lokasi yang dipilih berada hampir di ujung Puncak yaitu di Rest Area Gunung Mas hingga Puncak Pass.
Berbeda jika SSLRT dibangun dari mulai Ciawi hingga Puncak. Tentunya akan menjadi moda transportasi baru, tidak hanya wisatawan tapi juga masyarakat lokal.
Meski demikian, sambung Boboy, kereta gantung itu menjadi sebuah harapan bagi pihaknya sebagai pelaku usaha wisata agar Puncak kembali menjadi destinasi unggulan.
"Bisa menjadi magnet untuk lebih banyak wisatawan datang ke Puncak. Ketika kunjungan meningkat, akan berdampak pada ekonomi pelaku pariwisata di kawasan Puncak," katanya.
Sebelumnya, Bupati Bogor, Rudy Susmanto menyampaikan rencana pembangunan Suspended String Light Rail Transport atau kereta gantung dalam rapat ekspose di Pendopo Bupati, Cibinong, Selasa (9/9) lalu.
Kereta gantung itu dirancang untuk mendukung mobilitas masyarakat dan wisatawan khusus di kawasan wisata Puncak.
Bupati Bogor itu menyebut, proyek SSLRT menjadi langkah awal dalam menghadirkan sarana transportasi modern, efisien, dan ramah lingkungan di Bumi Tegar Beriman.(cok)
Editor : Alpin.