RADAR BOGOR – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menetapkan wilayah Bogor dan Depok sebagai sentra pengembangan riset kosmetik.
Kawasan ini dinilai memiliki ekosistem yang kuat untuk mendukung hilirisasi riset menjadi produk yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, kepada Radar Bogor pada kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Hasil Riset dan Inovasi Kosmetik melalui Program GROW di ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu, 17 September 2025.
“Kegiatan pagi ini menunjukkan satu kolaborasi yang semakin baik, bukan saja antara BRIN dengan BPOM, tetapi juga ini akan melibatkan secara langsung teman-teman pelaku usaha yang bergerak di bidang industri kosmetik,” katanya saat dikonfirmasi Radar Bogor.
Menurutnya, pasar kosmetik sangat prospektif. Karena itu, BRIN bersama BPOM berkewajiban memberikan dukungan optimal agar para pelaku usaha dapat memanfaatkan peluang tersebut dan berkembang lebih baik.
Terkait maraknya kosmetik berbahaya, Hendrian menegaskan fungsi pengawasan sepenuhnya berada di BPOM sebagai regulator.
Ia menambahkan, BRIN berharap hasil riset para periset tidak hanya menjadi paper, melainkan benar-benar diterapkan untuk kepentingan masyarakat dan industri.
“Bagaimana pun penelitian ini menggunakan uang negara, jadi harus kembali secara konkret dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat banyak,” tegasnya.
Hendrian menjelaskan, Bogor dan Depok dipilih karena memiliki dukungan ekosistem yang kuat dan salah satu Balai POM juga berlokasi di sini.
“Kemudian jangan lupa bahwa ada juga perguruan tinggi-perguruan tinggi yang saya kira bisa memberikan dukungan luar biasa terhadap upaya kita dalam mengembangkan industri kosmetik,” ujarnya.
Dalam program ini, BRIN berperan sebagai penyedia teknologi (technology provider), sementara BPOM fokus pada regulasi dan pengawasan.
“Saya kira tidak menutup kemungkinan terjadi joint research, kerjasama penelitian dengan teman-teman di perguruan tinggi,” tambahnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah perguruan tinggi yang memiliki keunggulan riset di bidang kosmetik. Menurutnya, salah satu yang cukup menonjol adalah Universitas Syiah Kuala di Aceh,
"Saya kira IPB, UI itu juga punya keunggulan-keunggulan yang berbeda dan spesifik," pungkasnya.
Dengan sinergi riset, industri, pengawasan, dan akademisi, BRIN optimistis industri kosmetik lokal dapat semakin berkembang dan bersaing di pasar global. (Cr1)